Dalam ilmu manajemen sistem dan manajemen operasi (dulunya disebut manajemen produksi), terdapat satu proses yang sangat mendasar berupa sebuah sistem umum. Proses sistem tersebut berbentuk suatu aliran, yaitu masukan (input) à proses (transformasi) à keluaran (output).
Proses sistem ini tidak hanya berlaku pada mesin, program, atau peralatan lainnya. Proses sistem ini umum ditemui dalam hampir semua proses dalam kehidupan. Proses sistem ini juga terjadi dalam organisasi maupun individu. Proses sistem yang terjadi dalam diri seorang individu disebut ”sistem diri”.
Input yang masuk ke dalam diri individu dapat berupa pelajaran atau pengetahuan yang diperoleh dari sekolah, kursus, pelatihan, ceramah, talkshow, diskusi, bacaan, dan lain-lain. Beragam sumber input tersedia berlimpah di era kemajuan teknologi informasi sekarang ini.
Transformasi mencakup berbagai proses yang terjadi di dalam diri individu, misalnya berpikir, mengkaji, merenung, menganalisis, mempraktikkan, mengalami, meresapi, bermeditasi, dan lain-lain. Beragam proses yang terjadi dalam diri individu dapat dikelompokkan menjadi olah pikir, olah rasa, dan olah raga.
Output yang keluar dari dalam individu kepada orang lain dan lingkungannya dapat berupa pemberian pelajaran, ceramah, pelatihan, sharing, tulisan, juga curahan hati (curhat). Tersedia beragam saluran keluaran yang dapat dipilih sesuai dengan karakteristik individu tersebut.
Setiap orang bertanggung jawab terhadap input apa saja yang boleh masuk ke dalam dirinya. Pun ia bertanggung jawab atas proses-proses yang terjadi di dalam dirinya terhadap semua input yang masuk. Selanjutnya, ia bertanggung jawab terhadap output yang dia keluarkan kepada orang lain dan lingkungannya.
Ada berbagai tipe orang ditinjau dari sistem diri yang dianutnya. Tipe pertama adalah orang yang berhenti di tahap input atau disebut tipe orang ”Stop Input”. Orang tipe pertama ini tidak mengijinkan dirinya untuk menerima input dari berbagai sumber. Hal ini bisa terjadi karena terdapat halangan secara mental (mental blocks) dalam pikirannya, contohnya bahwa otaknya tidak sanggup belajar banyak, dirinya bukan keturunan orang pintar, dia tidak memiliki uang untuk biaya belajar, dia tidak punya waktu untuk belajar, dan lain-lain.
Tipe kedua adalah orang yang berhenti di tahap proses atau disebut tipe orang ”Stop Proses”. Orang tipe kedua ini mungkin saja telah banyak belajar dan menerima banyak input dari luar ke dalam dirinya. Akan tetapi input-input tersebut tidak atau sedikit sekali diproses di dalam dirinya. Input apa pun yang diterima, langsung dipercaya begitu saja dan dipegang teguh. Tidak terjadi proses berpikir, mengkaji, merenung, menganalisis, mempraktikkan, mengalami, meresapi, bermeditasi, dan lain-lain di dalam dirinya.
Tipe ketiga adalah orang yang berhenti di tahap output atau disebut tipe orang ”Stop Output”. Orang tipe ketiga ini bisa jadi telah banyak belajar dan secara aktif memproses berbagai input yang masuk ke dalam dirinya. Akan tetapi semuanya dipendam di dalam dirinya, untuk dirinya sendiri, atau karena tidak menemukan cara yang tepat untuk mengeluarkannya dari dalam diri.
Tipe keempat adalah orang yang menjalani secara lengkap ketiga tahapan dalam sistem diri. Orang tipe ini memastikan output-nya berguna dan memiliki nilai tambah bagi orang lain dan lingkungannya. Orang tipe ini melakukan banyak karma baik sebagai output dari sistem dirinya.
Orang tipe keempat juga membuat sistem dirinya menjadi suatu putaran (siklus) yang berkesinambungan. Berbagai input baru yang diterimanya atas output yang telah dia hasilkan, dia gunakan untuk mencari input baru lain yang sesuai. Kemudian ia memproses input baru tersebut secara tepat untuk menghasilkan output yang lebih baik lagi. Inilah tipe ”Pembelajar Sejati”. Tipe inilah yang harus dijadikan target oleh setiap buddhis. Tipe pembelajar sejati akan terus bertumbuh dan mampu membuat banyak karma baik bagi orang lain, makhluk lain, dan lingkungannya.
Marilah sebagai seorang buddhis kita melakukan analisis diri. Jangan menunda atau menunggu lagi. Lakukan segera analisis diri secara jujur. Kenali tipe orang dengan sistem diri apakah diri kita masing-masing. Yang terbaik adalah menjadi orang dengan sistem diri tipe keempat dalam menjalani kehidupan ini. Jika masih belum menjadi orang tipe keempat, bergegaslah mengambil tindakan untuk merealisasikannya.

















