Keyakinan terhadap Hukum Karma merupakan salah satu keyakinan (saddha) yang sangat penting untuk dimiliki oleh setiap buddhis.
Karma (dalam bahasa Sansekerta) atau kamma (dalam bahasa Pali) berarti perbuatan. Oleh karenanya, Hukum Karma adalah hukum yang mengatur atau berkenaan dengan perbuatan. Nama lain Hukum Karma yang banyak dikenal orang, di antaranya Hukum Sebab-Akibat, Hukum Aksi-Reaksi, Hukum Tabur-Tuai, dan Hukum Kasih-Terima.
Dalam paritta Abhiṇhapaccavekkhaṇa Pāṭha yang sebaiknya kerap kali atau sering kali kita renungkan, Buddha mengatakan, “……….. Aku adalah pemilik perbuatanku sendiri, terwarisi oleh perbuatanku sendiri, lahir dari perbuatanku sendiri, berkerabat dengan perbuatanku sendiri, tergantung pada perbuatanku sendiri. Perbuatan apa pun yang kulakukan, baik ataupun buruk; perbuatan itulah yang akan kuwarisi ………..”
Jika kita mampu kerap kali atau sering kali merenungkan ucapan Buddha berkaitan dengan karma ini, sangatlah mungkin kita akan lebih berhati-hati dalam melakukan perbuatan terutama perbuatan atau karma yang buruk. Kita juga akan terdorong untuk lebih banyak berbuat karma baik karena kita tahu bahwa akibat atau buah dari semua karma yang sudah kita lakukan, akan bermuara ke kita pula suatu ketika nanti di waktu mendatang.
Tanpa disadari, banyak orang yang salah strategi dalam upaya mengumpulkan banyak karma baik. Jika strategi yang salah ini terus dilakukan sepanjang kehidupan, jangan kaget jika ternyata karma baiknya tidak sebanyak yang diharapkan, malahan bisa terjadi karma buruknya seimbang dengan karma baiknya, atau bahkan lebih banyak karma buruk dibanding karma baik yang sudah dilakukan.
Koq bisa terjadi demikian? Wah gawat kalau begitu. Bisa muncul pikiran-pikiran ini setelah membaca kalimat-kalimat provokatif tersebut.
Sesuai dengan Hukum Karma, terdapat tiga sumber karma, yakni pikiran, ucapan, dan badan jasmani. Karma oleh ucapan dan badan jasmani kita adalah perbuatan yang kasat mata alias bisa terlihat, atau terdengar, atau terasa oleh kita sendiri maupun oleh orang lain. Karena kita ketahui dan/atau diketahui oleh orang lain, sangat mungkin kita berhati-hati menjaga karma-karma buruk yang kita lakukan melalui ucapan dan badan jasmani. Jikapun sekiranya kita terlanjur melakukan karma buruk melalui ucapan dan badan jasmani, sangat mungkin orang di sekitar kita akan mengingatkan kita. Jadilah kita terdorong untuk lebih menjaga atau mengontrol perbuatan buruk yang kita lakukan melalui ucapan dan badan jasmani. Jika kontrol diri seperti ini berjalan baik di diri kita, sangatlah mungkin akan lebih banyak perbuatan baik kita lakukan dibanding perbuatan buruk melalui ucapan dan badan jasmani.
Akankah demikian halnya dengan karma oleh pikiran? Sayang kenyataannya tidaklah demikian. Sangatlah mungkin karma oleh pikiran kita lebih banyak yang buruk dibanding yang baiknya. Kenapa bisa demikian? Karena perbuatan oleh pikiran kita tidak diketahui oleh orang lain. Oleh karenanya, tidak ada kontrol dari orang lain kepada kita di saat kita berpikir buruk. Jangankan orang lain, kita sendiri seringkali tidak menyadari di saat pikiran kita melakukan perbuatan-perbuatan buruk. Kita nyaman-nyaman saja sewaktu berpikir yang buruk. Alhasil banyak karma buruk dilakukan oleh pikiran kita.
Dalam salah satu sumber populer disebutkan bahwa bentuk-bentuk pikiran yang muncul di setiap manusia normal rata-rata 60.000 dalam sehari. Bayangkan betapa banyaknya bentuk-bentuk pikiran yang muncul dan tenggelam dalam pikiran kita setiap harinya. Apalagi kebanyakan kita cenderung mudah komplain atau protes terhadap hal-hal ataupun situasi dan kondisi kurang baik yang kita jumpai sehari-hari. Kita mudah mengumpat atau memaki bahkan mendoakan yang buruk bagi orang-orang yang kita pikir terlibat dalam ketidakenakan yang kita rasakan. Karena sering kita lakukan secara sadar ataupun tidak, terbentuklah kebiasaan berpikir buruk. Kita berulang-ulang berpikir buruk setiap harinya.
Oleh karenanya sangatlah penting untuk memiliki kemampuan menyadari dan menjaga pikiran kita agar bisa memikirkan hal-hal yang baik dan positif. Buddha mengajarkan meditasi sebagai cara terbaik untuk memiliki kemampuan kontrol atas pikiran kita. Melalui praktik meditasi, kita akan punya kemampuan untuk memilah-milah mana pikiran yang perlu diputus (karena tidak baik) dan mana yang perlu diperhatikan (karena baik). Inilah yang dikatakan sebagai perhatian benar, memperhatikan hanya apa-apa yang benar dan baik.
Setelah memiliki kemampuan memilah-milah pikiran yang perlu dipertahankan, kemampuan berikutnya adalah berfokus atau berkonsentrasi kepada pikiran-pikiran yang baik untuk dipertahankan lebih lama sehingga menjadi pikiran kita yang dominan. Inilah yang dikatakan sebagai konsentrasi benar, menjaga perhatian kepada apa-apa yang benar dan baik sepanjang atau selama mungkin. Dengan perhatian yang terfokus kepada yang benar dan baik ini, kita mencegah atau mengecilkan kesempatan pikiran buruk untuk muncul.
Karena itu penting sekali bagi kita untuk rajin berpraktik meditasi sehingga memiliki kemampuan dan keterampilan dalam mengelola pikiran kita. Strategi untuk memiliki kemampuan lebih dalam mengelola pikiran melalui praktik meditasi ini, bisa membantu memastikan karma melalui pikiran kita lebih dominan yang baik dibanding yang buruk.

















