Top 10 Penulis

Strategi Terbaik Menghadapi Kematian

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

person's hands
Photo by Alexander Grey

Kebanyakan kita pernah mendengar dua kalimat bijaksana ini: “Yang pernah dilahirkan, pasti akan mati.” dan “Hidup ini tidak pasti, kematianlah yang pasti.”

Meskipun banyak kalimat dan nasihat bijaksana berkaitan dengan kematian, sejak zaman dahulu kala, sekarang, maupun di masa mendatang, akan selalu ada orang-orang yang menginginkan keabadian alias tidak akan mati. Berbagai upaya dilakukan untuk memperpanjang kehidupan bahkan untuk membuat kehidupan manusia langgeng. Namun kenyataan membuktikan bahwa setiap manusia pada waktunya akan mati juga.

Sebagai seorang buddhis, kita menerima dan menyakini bahwa pikiran terakhir seorang manusia sebelum meninggal, menentukan kemana dia akan terlahir kembali. Jika pikiran terakhir seseorang sebelum meninggal adalah pikiran baik maka kemungkinan besar orang tersebut akan terlahir kembali dalam kehidupan yang lebih baik atau bahkan alam yang lebih baik atau lebih tinggi. Demikian sebaliknya, jika pikiran terakhir seseorang sebelum meninggal adalah pikiran buruk maka kemungkinan besar orang tersebut akan terlahir kembali dalam kehidupan yang lebih buruk atau bahkan alam yang lebih buruk atau lebih rendah.

Berbekal pengetahuan akan pikiran terakhir menjelang kematian ini, beberapa orang kemudian berpikir kebablasan. Mereka berpikir bahwa cukuplah hanya dengan menjaga pikiran terakhir menjelang kematian saja dengan pikiran-pikiran yang baik, akan terjaminlah kemana mereka akan dilahirkan selanjutnya. Orang-orang ini berpikir bahwa tidak masalah jika sepanjang kehidupan ini mereka tidak berbuat baik, bahkan tidak apa-apa berbuat buruk, asalkan mereka bisa menjaga agar pikirannya baik menjelang kematian maka segala sesuatunya akan aman-aman saja.

Apakah teori atau pemikiran seperti itu sepenuhnya salah bahwa cukuplah menjaga pikiran terakhir sebelum kematian dan mengabaikan perbuatan sepanjang kehidupan? Tentu saja salah total. Memang betul pikiran terakhir menjelang kematian menentukan kemana kelahiran kita berikutnya. Akan tetapi mengabaikan semua perbuatan sepanjang kehidupan dan hanya bersandarkan kepada pikiran terakhir menjelang kematian untuk menentukan kelahiran selanjutnya, jelas keliru adanya.

Apakah mudah untuk mengarahkan pikiran terakhir kita menjelang kematian kepada pikiran-pikiran yang baik? Jawaban yang benar adalah teramat sulit untuk melakukan ini. Jangankan kondisi kita sudah payah dan lemah akibat sakit berat menjelang kematian. Saat kita sehat pun sangatlah tidak mudah bagi kita untuk mengarahkan pikiran kita kepada hal-hal yang baik saja.

Cobalah untuk mengingat-ingat saat kita berlatih meditasi pemusatan pikiran. Berapa lama kita bisa mengarahkan pikiran kita kepada obyek meditasi kita? Bisa jadi hanya dalam durasi yang pendek atau terputus-putus kita bisa menjaga pikiran kita kepada obyek meditasi kita. Itupun terjadi saat kondisi fisik dan pikiran kita relatif masih sehat dan kuat. Bagaimana jika kondisi fisik dan pikiran kita sudah sangat lemah akibat penyakit dan/atau usia tua? Bisa dibayangkan betapa sulitnya untuk mengarahkan pikiran kita kepada hal-hal yang baik di saat demikian, menjelang kematian kita.

Demikianlah adanya, pikiran terakhir menjelang kematian kebanyakan adalah refleksi atau gambaran dari keseharian diri kita, apa-apa yang biasa kita lakukan sepanjang kehidupan ini. Dalam kondisi tidak ada karma baik atau buruk yang sangat besar sehingga harus berbuah secara langsung tanpa tertunda, perbuatan dominan yang kita lakukan sepanjang kehidupanlah yang akan muncul dalam pikiran terakhir kita menjelang kematian. Jika sepanjang kehidupan kita lebih banyak melakukan perbuatan baik maka pikiran terakhir kita menjelang kematian akan yang baik-baik atau terbayang kembali perbuatan-perbuatan baik tersebut. Demikian sebaliknya, jika sepanjang kehidupan kita lebih banyak melakukan perbuatan buruk maka pikiran terakhir kita menjelang kematian akan yang buruk-buruk atau terbayang kembali perbuatan-perbuatan buruk tersebut.

Pertanyaan yang relevan selanjutnya adalah apakah berguna untuk dibacakan paritta atau sutra bagi seseorang yang sedang menjelang kematiannya? Jawabannya adalah sangat bergantung kepada situasi dan kondisi orang yang menjelang kematian tersebut. Jika pembacaan paritta atau sutra yang dilakukan bisa membuat pikirannya tenang, sangat mungkin bisa mendorong munculnya pikiran-pikiran baik hasil dari perbuatan-perbuatan baiknya sepanjang kehidupan. Demikian sebaliknya, jika pembacaan paritta atau sutra yang dilakukan ternyata tidak bisa membuat pikirannya tenang, berarti kurang atau tidak membantu si sakit untuk mendorong munculnya pikiran-pikiran baik hasil dari perbuatan-perbuatan baiknya sepanjang kehidupan.

Oleh karena itu, strategi terbaik seorang buddhis dalam menghadapi kematian yang tidak terhindarkan adalah melakukan sebanyak mungkin perbuatan baik di sepanjang kehidupan ini. Juga mengurangi sebanyak mungkin perbuatan buruk di sepanjang kehidupan ini. Kombinasi keduanya akan sangat mendukung munculnya pikiran-pikiran yang baik dan positif menjelang kematian sehingga bisa terlahir di kehidupan yang lebih baik, atau bahkan di alam yang lebih tinggi.

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

a close-up of a hand
Pernahkah Anda kenal dengan orang yang hanya mementingkan diri sendiri dan hidupnya benar-benar bahagia?
woman in white shirt wearing eyeglasses
Dia terlihat bingung untuk menyeberangi sungai di depannya yang airnya cukup tinggi dan deras.

Tulisan Terkait