Ada satu pertanyaan yang agaknya susah dijawab, apakah umat Buddha terjamin masuk surga? Susah dijawab karena berkaitan dengan surga yang dipercaya sebagai suatu alam kehidupan penuh kebahagiaan setelah seseorang meninggal dunia.
Menjadi lebih sulit lagi karena tiap orang tentu mempunyai konsep sendiri tentang surga sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Kata surga berasal dari Bahasa Sansekerta yaitu svarga (dalam Bahasa Pali disebut sagga).
Dalam agama Buddha dikenal banyak alam kebahagiaan di atas alam manusia. Ada enam surga dan di atasnya ada 20 alam Brahma. Surga dan alam Brahma beserta penghuninya tidak dapat dilihat dengan mata manusia biasa karena mempunyai dimensi yang sangat halus.
Surga yang paling rendah dan berdekatan dengan bumi manusia adalah surga Empat Dewa Maharaja. Dipimpin oleh Empat Rajadewa yang menguasai empat penjuru bumi dan menjadi pelindung dunia. Mereka mempunyai pengikut yang berbeda-beda, ada yang merupakan dewa penyanyi, dewa penjaga hutan, naga dan sebagainya.
Para dewa itu ada yang tinggal di bumi tetapi dalam dimensi yang berbeda seperti di gunung atau gua, ada yang tinggal di pohon, ada pula yang tinggal di angkasa beserta istananya.
Penghuni surga ini ada yang tampan atau cantik, tetapi ada pula yang tidak rupawan dan ada pula dewa yang iseng suka mengganggu. Ini karena sebagian dari dewa tersebut semasa hidup sebagai manusia mempunyai sifat buruk yang menyebabkan penampakan buruk dalam kelahirannya sebagai dewa di surga.
Untuk dapat terlahir di surga agaknya tidak terlalu sulit. Syarat pertama adalah banyak berdana. Ada yang menjadi penghuni surga karena sering mempersembahkan makanan kepada para petapa.
Kedua tidak berbuat jahat, menyakiti atau membunuh makhluk lain. Ketiga suka beribadah sesuai dengan ajaran agama. Dengan memenuhi ketiga syarat ini mestinya seseorang akan masuk surga saat meninggal dunia.
Ada perkecualian, kalau saat meninggal terdapat kemelekatan kuat terhadap seseorang atau sesuatu yang ada di dunia ini maka kemelekatan itu akan menghalangi jalan ke surga. Atau bila pada saat meninggal timbul kesadaran yang tidak baik, ini pun dapat menghalangi jalan ke surga.
Lama kehidupan di surga di atas adalah 500 tahun surga yang kalau dikonversi dengan waktu di bumi menjadi sembilan juta tahun. Sehari semalam di alam surga itu adalah lima puluh tahun kehidupan di dunia. Kehidupan di surga tentu jauh lebih menyenangkan dari pada di dunia. Lebih tinggi surganya, lebih besar kesenangan yang diperoleh.
Di atas surga Empat Dewa Maharaja, terdapat surga Tavatimsa. Di surga ini semua penghuninya tampan dan cantik, yang pria seperti pemuda berusia 20 tahun dan yang wanita seperti gadis berusia 16 tahun.
Di surga tidak ada proses penuaan, makanannya makanan surgawi sehingga tidak menimbulkan kotoran untuk dibuang seperti pada manusia. Usia di surga ini adalah 36 juta tahun dihitung dari ukuran waktu di dunia. Masih ada lagi empat surga di atasnya yang merupakan ‘surga extraterrestrial’, berada di luar jangkauan bumi, berbeda dengan dua surga di bawahnya yang merupakan ‘surga terestrial’ (berkaitan dengan bumi).
Ada kisah Buddha Gotama pergi ke surga Tavatimsa untuk mengajar Abhidhamma kepada ibunya (yang telah terlahir kembali sebagai dewa di surga Tusita) juga kepada para dewa lainnya.
Seusai mengajar selama tiga bulan lamanya, banyak para dewa yang mendengar ajaran mencapai tingkat kesucian. Banyak diceritakan kisah siswa Buddha seperti Yang Ariya Moggallana pergi ke surga dan bertanya kepada para penghuni surga, perbuatan baik apa yang telah dilakukan sehingga mereka bisa terlahir di surga.
Para penghuni surga merupakan makhluk-makhluk yang masih terikat pada kesenangan inderawi, mereka hidup senang dan bahagia dengan istana dan taman yang indah, berpesta gembira sehingga banyak yang melupakan ajaran kebenaran karena terbuai oleh nafsu inderawi.
Ada pula dewa yang dapat ‘mencipta’ benda-benda yang mereka inginkan. Dewa dan dewi dapat merasakan ketertarikan satu sama lain. Semakin tinggi tingkat surganya semakin lama usia hidup penghuninya.
Namun seperti juga pada manusia, ada juga dewa yang berusia singkat tidak sampai memenuhi jatah usia di surga bersangkutan. Apabila perbuatan baik yang mendukung kelahirannya di surga berakhir maka para dewa akan ‘lenyap’ dari surga untuk terlahir kembali di alam lain sesuai dengan perbuatannya.
Di atas surga terdapat alam Brahma yang lebih ‘halus’ lagi dengan masa kehidupan yang semakin panjang dalam milyaran tahun. Alam ini merupakan tempat kelahiran kembali dari orang-orang yang telah mencapai tingkatan tinggi dalam meditasi.
Ada makhluk Brahma yang masih mempunyai bentuk sebagai sesosok makhluk, ada pula yang tidak lagi mempunyai bentuk karena hanya terdiri atas unsur batin. Suatu hal yang tentunya tidak terbayangkan oleh akal pikiran manusia biasa. Meskipun menjalani kehidupan yang sangat lama tetapi pada waktunya akan berakhir sesuai dengan habisnya kekuatan perbuatan yang mendukung kelahiran di alam ini.
Maka kelahiran di surga ataupun alam Brahma tidak menjadi tujuan akhir umat Buddha karena tetap dalam rangkaian kehidupan yang tiada habisnya dari satu kehidupan ke kehidupan lain.
Oleh karena itu Buddha menunjukkan jalan untuk mencapai suatu kondisi yang terlepas dari lingkaran kehidupan demikian, kondisi kebebasan dan kebahagiaan tertinggi yang disebut Nibbana – suatu kondisi ‘unborn, unbecome, unmade, unconditioned’ – suatu pencapaian spiritual tertinggi yang dapat kiranya dinyatakan sebagai perwujudan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Pada kondisi ini seseorang telah terbebas sepenuhnya dari rasa keakuan, lobha (keserakahan), dosa (kebencian), moha (ketidaktahuan), kemelekatan terhadap segala sesuatu, sehingga tercapai kebahagiaan mutlak.
Meskipun surga tidak menjadi tujuan akhir umat Buddha, tetapi tentu menjadi dambaan banyak orang untuk dapat masuk surga. Kepada umat pemula, Buddha mengajarkan Ajaran Bertahap (Anupubbikatha) yang diawali dengan berdana, menjalankan sila (aturan moral) diikuti dengan kebahagiaan surga.
Sejatinya seseorang masuk surga tidaklah bergantung kepada agamanya, tidak pula terjamin bahwa umat Buddha akan masuk surga.
Beruntunglah karena persyaratan masuk surga sesungguhnya tidaklah begitu sulit. Siapa saja yang tidak suka berbuat jahat, suka berdana, taat beribadah, tidak melekat kuat pada sesuatu di dunia, pada saat meninggal batinnya dalam keadaan damai dan tenang, tentu punya harapan besar bisa masuk surga.

















