Ada sebuah kisah yang sangat menggugah di dalam buku “Seni Perang Tiongkok” mengenai seorang jenderal Tiongkok yang memiliki pasukan dengan disiplin terbaik di seluruh tentara kekaisaran. Setiap kali ia memerintah prajuritnya untuk melakukan sesuatu, mereka langsung melakukannya. Tidak ada pemberontakan, tidak ada alasan. Kaisar sangat kagum dengan jenderal ini hingga ia ingin mencari tahu mengapa bisa seperti itu. Kaisar pun bertanya, “Jenderal, apa trikmu? Bagaimana teknikmu melatih prajurit hingga mereka selalu mematuhi perintahmu?”
Sang jenderal memberikan jawaban ini kepada kaisar, “Saya hanya meminta mereka melakukan apa yang ingin mereka lakukan. Itulah sebabnya mengapa mereka selalu mematuhi perintah.”
Jadi, jika Anda ingin anak-anak Anda memiliki disiplin yang baik, cukup dengan menyuruh mereka melakukan apa yang ingin mereka lakukan. Dengan begitu mereka akan selalu menaati perintah. Jika Anda ingin memiliki hubungan yang baik dengan istri Anda, beritahu dia untuk melakukan apa yang ingin dia lakukan, begitu pula dengan suami Anda.
Tapi tentu saja kita menyadari bahwa ada sesuatu yang menarik dengan trik ini. Apalagi jika melihat para prajurit dri jenderal tersebut benar-benar disiplin. Mereka bangun pagi-pagi buta lalu berlatih sangat keras. Bagaimana bisa membuat mereka mau bangun pagi-pagi? Bagaimana bisa membuat mereka mau berlatih sangat keras? Bagaimana bisa membuat mereka mau bertarung di medan laga yang bisa membuat mereka terluka atau bahkan terbunuh? Bagaimana bisa membuat orang mau melakukan ini dan itu? Apakah memang itu kemauan atau keinginan mereka sendiri?
Jawabannya adalah terletak pada “motivasi”. Jenderal itu adalah seorang motivator yang hebat. Ia memotivasi pasukannya sedemikian baiknya. Ia menjelaskan kepada mereka alasan-alasannya sehingga mereka tak sabar untuk bangun pagi-pagi bahkan pagi-pagi buta, membuat mereka tak sabar untuk segera berlatih sangat keras, membuat mereka tak sabar untuk bertempur dengan musuh. Itulah alasan mengapa mereka menaati perintah dengan sedemikian patuh.
Begitu pula dengan Anda yang memiliki anak. Gagasan agar mereka melakukan apa yang Anda inginkan adalah dengan memberi mereka motivasi sehingga mereka ingin membersihkan kamar mereka. Mereka menjadi tidak sabar menunggu Anda memberikan perintah, seperti “Nak, ayo bersihkan kamarmu!” “Hore! Aku sudah menunggu perintah itu dari tadi!” “Nak, tolong potong rumput di kebun!” “Siap! Kenapa baru sekarang perintah itu diberikan?” “Nak, kerjakan pekerjaan rumah tambahan.” “Owh, terima kasih banyak, Mama!”
Anda pasti bisa melakukannya. Bagaimana caranya? Anda harus memberi mereka alasan mengapa sebaiknya melakukan suatu hal. Memahami bahwa merupakan keuntungan bagi mereka jika melakukan hal tersebut akan membuat mereka lebih bahagia, menjadi orang yang lebih baik, dan mereka ingin melakukan hal tersebut karena membuat mereka bahagia.
******
Apa yang hendak disampaikan dari cerita tersebut adalah ketika Anda bisa memotivasi orang untuk mengetahui apa yang baik dan buruk, Anda bisa memotivasi mereka bahwa merupakan kebaikan, keuntungan untuk kebahagiaan mereka sendiri, untuk menjadi bajik, ramah, bijak dan bahagia. Ketika kita memotivasi orang lain sama seperti kita memotivasi diri kita sendiri, inilah yang termasuk ke dalam “Membantu orang lain sama dengan membantu diri sendiri.”
Ketika membantu orang lain, hidup kita akan menjadi lebih bahagia. Semakin banyak rasa bahagia tersebut, semakin mudah untuk mengeluarkan diri kita yang terbaik, yakni mengeluarkan potensi, bakat, dan kemampuan terbaik yang ada dalam diri kita, agar kita bisa lebih bermanfaat bagi diri sendiri dan banyak orang dalam kehidupan ini. Niscaya kesuksesan dan kebahagiaan yang lebih luas dalam kehidupan akan menjadi milik kita.
“Dengan menyalakan lilin orang lain, nyala lilin sendiri akan bertambah terang. Jadilah lilin untuk menyinari diri sendiri sekaligus untuk menyalakan lilin orang lain supaya sinar keseluruhan menjadi lebih terang.”
(Diambil dari Buku “MotivAction – Motivation for Action”)

















