Dulu sekali di Jakarta belum ada hotel megah bertingkat. Maka ketika berdiri hotel pertama yang megah dan bertingkat tinggi, banyak orang datang ke hotel tersebut untuk melihat-lihat. Demikian pula seorang tetangga.
Suatu kali bersama istri dan anak-anaknya ia pergi ke hotel itu untuk masuk ke dalamnya melihat bagaimana keadaan hotel baru tersebut. Tetapi sayang sekali sesampainya di hotel itu ia tidak diperkenankan masuk ke dalam hotel dengan satu alasan – tidak memakai sepatu.
Mau pulang tentu membuat sia-sia usahanya. Karena pedagang, maka ia pun bernegosiasi sampai akhirnya diperkenankan masuk. Caranya sederhana, ia meminjam sepatu karyawan hotel (dengan tip tentunya).
Ada lagi cerita seorang lulusan SMA mengikuti ujian masuk perguruan tinggi di sebuah universitas swasta. Agaknya ia kurang cermat sehingga datang dengan memakai sandal, bukan sepatu. Alhasil ia ditegur oleh pengawas ujian yang meminta besoknya jangan pakai sandal lagi, memangnya mau mandi kata pengawas tersebut. Syukurlah ia kemudian diterima.
Demikianlah buah ketidakcermatan dalam memakai alas kaki yang untungnya berakhir bahagia. Sekarang pun ada kantor-kantor yang tidak memperbolehkan pengunjung memakai sandal, tapi hanya berlaku untuk pengunjung pria, tidak berlaku untuk pengunjung wanita, Ada sedikit diskriminasi.
Ingin cermat dalam berbahasa Indonesia juga bukan sesuatu yang mudah. Banyak yang masih bingung mana kata yang baku dan mana yang tidak baku. Contoh: kata aktif adalah kata baku, tapi kata “aktifitas” tidak baku karena yang baku adalah kata “aktivitas”.
Kalau ditanya yang baku Prancis atau Perancis, kebanyakan tentu menjawab Perancis. Tapi sayangnya salah karena yang baku adalah Prancis. Pernah lihat kata antre? Sedikit membingungkan tapi itulah bentuk baku dari kata antri.
Salah satu ketidakcermatan yang sering terjadi sejak dulu adalah penulisan kata silahkan dan silakan. Ada yang masih menulis silahkan, dan saat diberitahu bahwa silahkan merupakan bentuk tidak baku dan yang baku adalah silakan, hanya tertawa saja tapi tetap saja menulis silahkan. Barangkali dianggapnya tidak masalah karena orang toh mengerti maksudnya.
Memang sulit untuk mengubah kebiasaan yang sudah mendarah daging. Dulu ada sekretaris yang tetap mau memakai program computer WS4 karena tidak mau belajar program yang lebih baru yang mestinya lebih canggih.
Lebih serius adalah ketidakcermatan dalam penulisan gelar akademis. Banyak dijumpai seseorang menuliskan gelar akademis di belakang nama dengan gelar sarjana dan magister berturutan, misalnya Ahmad, S.H., M.H. Sebenarnya kalau sudah ada gelar M.H. semestinya tidak perlu lagi menuliskan gelar S.H. karena M.H. lebih tinggi dari pada S.H., kecuali mempunyai gelar sarjana di bidang lain, misalnya S.E. (Sarjana Ekonomi).
Penetapan penulisan gelar Doktor di depan nama juga contoh ketidakcermatan.
Pertama penulisan gelar Doktor di depan nama menyalahi cara penulisan gelar akademis jenjang sebelumnya yaitu Sarjana dan Magister yang dituliskan di belakang nama.
Kedua, penulisan gelar Doktor di depan nama tidak menyatakan keahlian seseorang, berbeda dengan jenjang sebelumnya yang jelas menyatakan keahlian misal Sarjana Hukum atau Magister Hukum.
Ada kejadian seorang dokter mengikuti program Doktor dalam Bidang Filsafat, setelah lulus maka tentu dituliskanlah gelar Dr. di depan namanya. Alhasil, orang mengira ia adalah seorang Doktor dalam Ilmu Kedokteran, padahal Doktor dalam bidang yang sangat berbeda dengan Ilmu Kedokteran. Dan ketidakcermatan itu sudah berlangsung puluhan tahun…
Barangkali tentara merupakan institusi yang sangat cermat dalam segala hal termasuk dalam pakaian. Mereka mempunyai PDU (Pakaian Dinas Upacara), PDH (Pakaian Dinas Harian), PDL (Pakaian Dinas Lapangan) yang harus dipakai sesuai dengan maksudnya.
Suatu kali ada seorang anggota Koramil di daerah hadir dalam suatu upacara dengan memakai PDH. Tetapi karena tiba-tiba diperintahkan untuk menjadi Pemimpin Upacara maka ia harus kembali ke rumah untuk berganti pakaian dengan PDU.
Pernah seorang selebritis salah kostum karena tidak cermat membaca undangan. Dalam undangan tertulis memakai pakaian adat, tetapi yang dipakainya busana resmi, jadilah ia berbeda sendiri dengan tamu-tamu lainnya. Para pimpinan kantor atau organisasi tentu juga harus cermat memilih pakaian yang sesuai dengan acara. Dalam acara rapat tentu semua yang hadir memakai pakaian yang sesuai.
Adalah tidak cermat apabila dalam suatu rapat resmi hadir dengan memakai kaus atau T-shirt walaupun kaos tersebut adalah kaos resmi. Yang melihat bisa-bisa membatin, memangnya baru selesai olahraga langsung rapat? Terlebih jika pimpinan organisasi di tingkat pusat memakai kaos saat rapat, sedangkan pengurus lain di tingkat provinsi maupun kotamadya/kabupaten memakai seragam resmi.

















