Top 10 Penulis

Tak Benci Maka Tak Sayang

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

person holding up love sign
Photo by Ben Mater

               Suka dan duka adalah sahabat karib yang tak terpisahkan. Mereka juga sahabat karib semua orang. Tak ada satu pun manusia yang bermusuhan dengan duka. Meskipun ia tak sepopuler dan tak dicintai seperti suka, ia tak pernah pergi.  Secara bergantian, suka dan duka menemani kita. Setelah suka tiba, duka pun tak lama menyusul meskipun sering tidak diminta. Ketika duka datang,  suka akhirnya akan juga datang. Begitu terus hingga nafas akhirnya tak lagi menjadi milik kita. Jadi tak usah heran dan galau kalau sedang berduka, karena duka tak akan bersama selamanya. Juga tidak boleh melekat ketika sedang menikmati suka karena ia pun akhirnya akan digantikan oleh duka.

               Suka dan duka hadir karena keputusan. Tiap orang bebas memilih ingin menghabiskan waktu bersama siapa; dengan suka atau duka, dan juga bisa menentukan berapa lama ingin bersama mereka. Caranya sederhana. Kikis kebencian. Itu saja dulu resep pertamanya.  Makin besar bencinya, makin sakit rasanya. Makin lama bencinya, makin lama dukanya. Sesederhana itu saja.  

               Benci bisa kepada diri sendiri, orang lain, atau kondisi. Di saat hati sedang tak jernih, keteledoran secuil saja bisa membua kemarahan memuncak. Alih-alih tenang, pikiran malah bersemangat mengutuk diri sendiri. “Kamu bodoh, teledor, gak hati-hati, ga punya mata yah”. Selain bertubi-tubi, kutukannya pun lama. Itulah ciri membenci diri sendiri. Kalau benci orang lain, kata-katanya sama tapi obyeknya berbeda. Dan kadang tak bisa diungkapan dan hanya dipendam sendiri. Kondisi juga sering dibenci. Macet, panas, mati lampu, internet lemot dan macam-macam lagi kerap menghadirkan nestapa di pikiran. Rasanya sesak di dada dan geram.

               Karena ada sampah, maka ada bunga. Bunga bisa ada karena sampah ada. Itu tutur bijak salah satu guru saya, Thich Nhant Hanh. Guru meditasi Zen asal Vietnam ini mengingatkan kita bahwa yang baik bisa ada karena ada yang buruk. Suka ada karena duka ada. Kebencian juga ada gunanya. Ia adalah peringatan bahwa kesabaran masih harus dilatih. Otot sabar akan semakin kencang ketika ada kondisi, orang lain, bahkan diri sendiri yang menjengkelkan. Beliau mengajarkan untuk memeluk kebencian. Caranya pun mudah. Begitu ia muncul, segera sadari kehadirannya. “Marah/benci, aku tahu kamu ada di sana.”  Peluk ia dengan menyadari nafas masuk dan keluar sebanyak tiga kali. Praktikkan dan segera rasakan indahnya hening dan berdiam dalam kedamaian dengan memeluk kebencian.

               Sudah cukup kita berteori. Mari kita berpraktik

Pilihan

Terpoler Minggu Ini

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

brown statue
Perilaku sombong merugikan karena umat tidak suka pandita yang sombong, dan tidak menghormati mereka. Kesombongan membangun tembok yang memisahkan pandita dengan umat sedangkan kerendahan hati adalah jembatan yang menghubungkan pandita dengan umat.

Tulisan Terkait