Rasanya tak mungkin mengingat kapan pertama kali air mata mengalir ke pipi karena rasa sakit atau kepedihan hati. Rasanya itu sudah berlalu lama. Alasannya pun sudah tak jelas lagi atau bahkan sudah tak ada gunanya sedikit pun untuk diingat-ingat. Yang masih bisa diingat adalah kali terakhir air mata jatuh di pipi. Alasannya pun masih segar. Tak perlu ditulis di sini agar yang baca nanti makin penasaran. Tujuan kalimat di atas bukan untuk mengorek masa lalu tapi sekedar mengakui bahwa seorang Hendra Lim saja tetap bisa menangis. Ya, I cry. Anda? Terserah mau jujur atau tidak.
Hal lain yang harus diakui adalah ternyata ada juga orang yang menangis karena saya. Penyebabnya cuman satu. Saya terlalu egois, keras kepala dan mau menang sendiri. Karena tak mampu lagi berkata-kata, tentu saja mereka cuman bisa menangis. Kadang ketika dingat kembali, ingin rasanya kembali ke masa lalu dan mengulang semuanya dengan indah. Tapi itu tak mungkin. Salah satu cara memperbaiki masa lalu adalah memperbaiki diri di masa sekarang agar di masa depan kebodohan dan kesalahan yang sama tidak terulang. Dan juga agar tak ada lagi air mata yang tumpah dengan sia-sia.
Tapi orang lain menangis bukan hanya karena saya egois. Di masa ketika punya kesempatan untuk berbagi di berbagai retret, kadang anak-anak peserta retreat menangis di hari terakhir. Mereka dipandu untuk mengingat jasa baik orangtua dan diajak bertekad untuk berubah menjadi anak yang sopan, santun, beretika, dan bertanggungjawab. Ini tangisan yang positif. Tapi ini bukan karena saya semata tapi karena para panitia juga bekerja dengan tulus, indah dan penuh pelayanan sehingga anak-anak betah, bahagia dan tersentuh. Mereka tak mau pulang. Mereka ingin tetap belajar bersama. Melihat peserta pelatihan menangis membuat hati juga ikut haru. Nangislah kita bersama-sama dalam bahagia
Menangis tak identik dengan kesedihan. Lihat fans-fans fantaik Bon Jovi yang bisa menangis hanya karena akhirnya bisa melihat sosoknya langsung di depan mata. Air mata papa dan mama di hari wisuda juga tangis yang indah. Di hari pernikahan, tak jarang kedua mempelai menangis haru setelah mencium kaki kedua orang tua sebagai tanda syukur dan terimakasih atas bimbingan selama ini. Susi Susanti, dan banyak rakyat Indonesia, tak kuasa menahan air mata saat bendera merah putih dikibarkan bersamaan dengan dikumandangkannya lagu Indonesia Raya untuk pertama kalinya di Olimpiade Barcelona 1992.
Menangislah jika itu memang tangisan yang layak. Berhenti menjadi orang bodoh yang menangis hanya karena seseorang egois, kerasa kepala dan tak mau mengalah/selalu mau menang sendiri. Tangisan seperti itu harus berhenti secepatnya sebelum kamar Anda penuh dengan tisu bekas sekaan air mata dan ingus Anda. Jadikan tangismu bahagia untuk dirimu sendiri.

















