Top 10 Penulis

Telur atau Ayam Lebih Dahulu

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

A Chick And Eggs On A Nest
Photo by ROMAN ODINTSOV

Pertanyaan “Telur atau ayam lebih dahulu?” sering menjadi perdebatan. Ujung-ujungnya tidak ada kesepakatan mana yang lebih dahulu.

Jika “telur lalu ayam”, muncul pertanyaan: “Dari mana telur itu ada?”. Karena harus ada ayam yang bertelur baru ada telur.

Sebaliknya, jika “ayam lalu telur”, timbul pertanyaan: “Dari mana ayam itu ada?”. Kalau tidak mungkin ada ayam kalau tidak ada telur, karena ayam muncul setelah telur ditetaskan.

Mana yang benar?. Mana yang salah?.

Keduanya benar, juga keduanya salah. 

Baik benar atau salah, hanyalah persepsi, tergantung dari sudut pandang. Karena kalau dilihat dari sudut pandang telur lalu ayam, maka ayam lalu telur adalah salah. Demikian sebaliknya, keduanya tidak bisa hadir bersamaan.

Persepsi

Jika ditarik mundur, andaikata ada seseorang tidak pernah kenal apa itu ayam, apa itu telur, atau pada zaman saat belum ada telur dan ayam, atau seseorang yang lahir tidak pernah kenal apa itu unggas, tidak kenal apa itu ayam dan telur, tidak juga tau kalau ayam itu bertelur, maka tidak ada yang benar, tidak ada yang salah, tidak juga keduanya. 

Karena ia tidak memiliki persepsi apapun terhadap ayam lalu telur ataupun telur lalu ayam, bukan juga keduanya, karena tidak ada telur, tidak ada ayam.

Baik yang berpendapat telur lalu ayam atau ayam lalu telur, masing-masing menciptakan persepi berdasarkan apa yang pernah ia kenali, apa yang pernah ia pelajari, apa yang ia yakini. 

**

Ketika seseorang ditinggal pergi oleh orang yang ia cintai, misalkan ibunya. Ia bersedih, kadang sangat bersedih, bahkan bertahun-tahun lamanya. 

Seseorang yang lewat melihat ada rumah yang sedang ramai, karena ada yang meninggal. Ia melewati daerah itu untuk pertama kalinya, tidak kenal orang-orang yang datang, tidak tahu tempat itu apa namanya, ia sama sekali tidak ada rasa sedih. Sama sekali!. Bahkan mencari tahu siapa yang meninggal juga tidak. 

Orang semacam ini banyak sekali, sangat banyak. Karena mereka semua tidak ada hubungannya dengan orang yang meninggal, kenal pun tidak. Ia tidak memiliki persepsi apapun pada orang yang meninggal itu. Tidak ada ikatan apapun terhadap dirinya, dia bukan-apa-apa bagi “aku”.

Sama halnya jika sesorang baru saja membeli telpon genggam, saat sayang-sayangnya, tanpa sengaja terjatuh. Rusak, sama sekali tidak dapat diperbaiki, rasanya kesal, kecewa, marah, sedih bercapur aduk.

Yang sedih atau sedikit sedih adalah orang yang terkait dengan pemilik telepon genggam itu. Seperti ia yang menganggap memiliki telepon itu ada adalah keluarga “aku”, ia adalah sahabat baik “aku” dan tentunya yang paling bersedih adalah karena telepon genggam itu adalah “aku”.

Bagi mereka yang tidak memiliki persepsi apapun pada pemilik telepon genggam itu, tidak ada rasa kecewa atau sedih. Mungkin bagi penjual telepon genggam akan senang, karena ada kesempatan menjual yang baru.

Kisah Munculnya “Aku”

Apapun yang terjadi, baik ditinggal orang yang dikasihi, barang yang rusak, musibah atau sesuatu yang dianggap baik, misalkan mendapat hadiah, mendapat juara, menikah, bagi seseorang yang tidak ada kaitannya, bukanlah hal yang penting, tidak ada arti sama sekali. Semua menjadi penting, menjadi sangat berarti karena adanya “aku” yang terkait dengan semua itu. Karena adanya “aku”, maka aku bahagia, aku menderita. 

Apakah mungkin menghapus persepsi “aku”, dalam arti tidak ada yang disebut ini milikku, ini diriku, ini aku?. Sangat mungkin. 

Pemilik telepon genggam bersedih karena telpon barunya rusak. Tetapi jika sedetik saja sebelum serah terima telpon, telpon itu terjatuh lalu rusak, ia tidak akan bersedih. Padahal telpon yang sama.

Begitu ia terima, ia menciptakan persepsi telepon ini milik “aku”. Aku ada di dalam telepon genggam ini, telepon genggam itu ada di dalam diriku, aku adalah telepon itu, telepon itu adalah aku, telpon itu milikku, aku senang punya telpon. Sehingga kalau telpon masih bagus, aku senang, jika rusak, aku juga sakit.

Ketika ada “aku”, maka muncullah gejolak “ini milikku, ini diriku, ini aku”.

“Aku” adalah sebuah anggapan (persepsi) yang  ada penyebabnya. Apapun yang ada penyebabnya pasti berakhir, termasuk anggapan adanya “aku”. Seperti kalimat yang diucapkan oleh Bhante Kondanna, Apapun yang muncul karena suatu sebab, sewajarnya akan lenyap (yaṃ kiñci samudaya dhammaṃ sabbaṃ taṃ nirōdha dhammam)

Anicca-Dukkha-Anatta

“Aku” menjadi jelas jika dilihat dari gejolaknya (ini milikku, ini diriku, ini aku). Jika persepsi yang benar dibangun, dengan anggapan tidak ada yang dapat dianggap sebagai “milikku, diriku, aku”, maka secara perlahan anggapan “aku” juga akan terkikis.

Karena apapun yang muncul karena suatu sebab, pasti akan lenyap (Anicca). Segala sesuatu yang muncul dan lenyap ini, tidak memuaskan (Dukkha), tidak dapat dianggap sebagai milikku, diriku, aku. 

Jika dianggap demikian, maka ujung-ujungnya akan mengarah pada ketidak-puasan, penderitaan (Dukkha). Menjadi penderitaan karena jika sesuatu yang dianggap baik, akan lenyap, kelenyapannya tidak dapat dicegah, sebaliknya jika hal itu adalah buruk, kemunculannya juga tidak dapat dicegah.

Demikian juga segala yang tidak kekal ini, tidak memuaskan, tidak bisa diperintahkan untuk berhenti, tidak bisa diperintahkan untuk tidak lenyap, tidak dapat dianggap milikku, diriku, aku (Anatta).

**

Dengan memahami bahwa tidak ada satupun yang dapat dianggap sebagai milikku, diriku, aku (Anatta), maka anggapan tentang adanya “aku” menjadi perlahan pudar dan akhirnya lenyap.

Ketika tidak ada “aku”, maka tidak ada aku bahagia, tidak ada aku menderita. Karena tidak ada aku.

Sumber bacaan: Mūlapariyāya Sutta, Anattalakkhaṇa Sutta

**

Jakarta, 26 September 2023

Pilihan

Terpoler Minggu Ini

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

Setiap sesi, bisa ada jeda istirahat, tetapi kalau terlalu lama maka waktu yang tersisa untuk tidur akan habis, sehingga setiap peserta berusaha untuk tidak menyia-nyiakan waktu. Setelah dikurangi waktu makan (saya hanya satu kali makan) dan mandi, umumnya peserta tidur hanya 2 atau 3 jam saja.
silhouette photo of Buddha statue
Apa pun yang dikenali oleh pikiran sebenarnya adalah hasil dari proses persepsi yang dibentuk oleh pengalaman. Karena persepsi sering kali terdistorsi oleh nafsu, kebencian, dan kebodohan, maka apa yang dikenali belum tentu sesuai dengan kenyataan.

Tulisan Terkait