Top 10 Penulis

Tepat Dan Pantas Memberi Apresiasi Kepada Diri Sendiri

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

Close-up portrait of an elderly man laughing, capturing a joyful and emotive expression.
Photo by Flickr

Suatu hari ada acara arisan para ibu di sebuah restoran. Biasanya, ketika berkumpul dengan teman-teman, ada rasa gengsi atau merasa takut dikatakan kuper (kurang pintar) sehingga berlagak sok pintar. Misalnya dalam memesan makanan atau minuman, ternyata ada yang memesan menu yang belum dikenalnya. Dengan bersikap sok pintar, mereka langsung berkata kepada pelayan kalau mereka memesan makanan ini dan itu, serta minimum ini dan itu. Ternyata ada yang memesan air putih hangat.

Setelah selesai memesan makanan dan minuman, mereka terlibat obrolan ngalor ngidul. Tak sadar ternyata sudah hampir satu jam, makanan yang dipesan belum juga datang. Akhirnya, ada satu ibu yang memanggil pelayan restoran dan menanyakan kapan pesanan makanan mereka bisa dihidangkan. Pelayan restoran menjawab, “Akan kami lihat dulu ke bagian dapur.” Karena sudah ngobrol banyak hampir satu jam, tentunya mereka juga haus namun ternyata minuman yang dipesan juga belum dihidangkan. Ibu yang tadi bertanya lagi tentang minuman yang dipesan ke pelayan restoran. Tak lama kemudian pelayan menyajikan minuman-minuman yang dipesan. 

Diantarlah satu per satu minuman dan dihidangkan di meja masing-masing. Untuk ibu yang memesan air putih hangat, pelayan restoran menyajikan air Aqua botol. Ibu yang memesan minuman itu berkata, “Kan saya memesan air putih hangat. Mengapa disajikan air Aqua botol?” Pelayan tersebut lalu membawa Aqua botol tersebut masuk kembali ke dapur.

Setelah 30 menit berlalu, air putih hangat yang dipesan si ibu belum juga keluar. Ibu yang memesan air putih hangat itu sudah tidak sabar dan memanggil pelayan restoran untuk segera mengeluarkan pesanannya. Ketika si ibu bertanya mengapa begitu lama? Pelayan restoran menjawab, “Karena harus dipanaskan terlebih dahulu Bu makanya agak sedikit perlu waktu.”

Tak lama kemudian datanglah pesanan si ibu. Tetapi di luar dugaan yang datang adalah botol Aqua yang persis seperti tadi tapi dalam bentuk yang sudah agak penyok. Si ibu yang memesannya bertanya, “Mengapa botol Aqua ini penyok? Kan saya memesan air putih hangat?” “Sesuai pesanan Ibu maka kami panaskan botol Aqua ini ke dalam microwave,” jawab pelayan restoran. Karena sudah jengkel,  si ibu hanya menjawab, “Ya sudah.”

Setelah pelayan restoran pergi, si ibu berkata kepada teman-temannya, “Tolol sekali ya pelayan tersebut. Minta air putih hangat, eh dikasih air Aqua yang dipanasi dengan botolnya.” Ibu lain yang menjadi teman ibu tersebut mengingatkan bahwa air Aqua botol tidak boleh dipanaskan. Akhirnya ibu tadi tidak jadi minum dan memanggil pelayan restoran lagi untuk memesan minuman yang baru. Dia memesan lagi air putih hangat dan dia menegaskan ke pelayan agar airnya dihidangkan dalam gelas.

Pelayan restoran itu setelah menerima pesanan ibu tadi, berkata ke temannya di dalam dapur, “Tolol sekali ibu itu. Sudah dikasih air hangat, eh pesan lagi air hangat.” Pelayan tadi lalu memasukkan botol Aqua tersebut ke dalam microwave dan setelah beberapa lama mengeluarkannya, kemudian menaruh air hangatnya ke dalam sebuah gelas. Lalu diantarlah air hangat, hasil dari air dalam botol Aqua yang telah dipanaskan di dalam microwave, ke ibu yang memesannya.

Pelayan itu mengantarkan pesanan air putih hangat dalam gelas tersebut ke ibu tadi sambil berpikir, “Tolol sekali ibu ini. Memesan air hangat sampai dua kali.” Si ibu menerima air putih hangat dalam gelas itu dengan senang dan menganggap bahwa pesanannya sekarang sudah sesuai.

***********

Kadang kita mengganggap orang lain tolol dan kita tidak menyadari bahwa diri kita juga dikatakan tolol oleh orang lain. Janganlah kita termasuk ke dalam kelompok orang “Tolol teriak tolol”.

Seringkali orang lain mentertawakan kita karena mereka tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi pada kita. Untuk menjaga agar kita tidak ditertawakan oleh orang lain, tingkatkan kesadaran dan kewaspadaan diri supaya kita bisa terus melangkah maju. Kadang-kadang kitalah yang harus mentertawakan diri kita sendiri daripada mentertawakan orang lain.

Atas pencapaian diri kita, kadang kita merasa ada yang kurang dan merasa bahwa kita belum melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan.

Selagi berjuang agar kita tidak terperosok masuk ke dalam kelompok “Tolol teriak tolol”, ada baiknya kita rutin memuji dan memberikan apresiasi ke diri kita sendiri dengan mengatakan bahwa kita pintar, kita sudah lebih baik dari sebelumnya, kita sudah ada kemajuan dari sebelumnya, kita sudah lebih bahagia, dan lain-lain.

Penting sekali kita secara tepat dan pantas memberi apresiasi kepada diri sendiri karena perbaikan yang sudah terjadi atas diri kita yang sekarang dibandingkan dengan diri kita yang sebelumnya. Semangat yang muncul dari apresiasi rutin kepada diri sendiri, akan dapat mempengaruhi dan membantu kita guna mengeluarkan diri kita yang terbaik, yakni mengeluarkan potensi, bakat, dan kemampuan terbaik dari dalam diri kita. Kesuksesan dan kebahagiaan yang lebih luas dalam kehidupan pun niscaya akan menjadi milik kita.

“Semangat yang muncul dari apresiasi rutin kepada diri sendiri, akan dapat mempengaruhi dan membantu kita guna mengeluarkan diri kita yang terbaik, yakni mengeluarkan potensi, bakat, dan kemampuan terbaik dari dalam diri kita.”

(Diambil dari Buku “MotivAction – Motivation for Action”)

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

Red and white lighthouse with waves crashing against rocks under a stormy sky.
Suatu hari, teman sekelasnya mengancam dia agar tidak mengisi lembar ulangan dengan benar supaya temannya tersebut bisa mendapatkan nilai terbaik. Dia pulang ke rumah dengan menangis namun tidak berani menceritakan apa yang terjadi

Tulisan Terkait