Top 10 Penulis

Tetaplah Percaya Kepada Diri Sendiri Meski Ada ‘Angin Kencang’

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

Red and white lighthouse with waves crashing against rocks under a stormy sky.
Photo by Steffi Wacker

Alkisah ada seorang anak sekolah dasar (SD) yang selalu mendapat rangking satu di dalam kelasnya. Dia sangat terkenal di sekolah tersebut karena pandai dan selalu mewakili sekolahnya dalam banyak pertandingan. Banyak sekali yang suka kepadanya karena selain baik hati dan suka membantu teman-temannya jika ada kesulitan dalam pelajaran, dia juga sangat ramah dan sopan terhadap bapak dan ibu guru di sekolah. Selain pandai dalam pelajaran matematika, bahasa dan hampir di semua pelajaran lainnya, dia juga pandai di bidang seni, seperti melukis dan musik.

Suatu hari, teman sekelasnya mengancam dia agar tidak mengisi lembar ulangan dengan benar supaya temannya tersebut bisa mendapatkan nilai terbaik. Dia pulang ke rumah dengan menangis namun tidak berani menceritakan apa yang terjadi kepada orang tuanya karena takut dengan ancaman temannya. Dengan sabar ibunya membujuk dia untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Anak itu lalu menceritakan ancaman dari temannya.

Setelah dinasihati oleh ibunya, dia mulai percaya diri dan berani menunjukkan bahwa dia sebenarnya tidak bersalah dan memang hak dia untuk meraih nilai terbaik dalam kelas jika memang hasil ulangannya demikian. 

Dalam kasus sekolah ini pun, seorang anak SD dapat mengalami apa yang disebut dengan “semakin tinggi pohon, semakin kencang tiupan angin.” Seandainya dia hanya murid dengan prestasi biasa saja, kemungkinan besar tidak akan ada yang mau mengancamnya supaya tidak menjadi peraih nilai terbaik.

********

Dalam dunia bisnis pun banyak kasus di mana jika seorang pebisnis sudah sukses, ada orang yang suka tetapi ada juga orang yang tidak suka. Yang tidak suka akan cenderung menjelek-jelekkan, memfitnah tanpa alasan, dan tindakan-tindakan lain yang buruk. Karena kalah bersaing, mereka mencari cara untuk menjelekkan bahkan menjatuhkan atau memunculkan anggapan bahwa keberhasilan pebisnis tersebut hanya faktor keberuntungan, bukan karena kemampuan. Perlu diingat bahwa emas meskipun dicelup ke dalam lumpur, akan tetap berkilau. Janganlah terlalu menghiraukan apa yang orang lain katakan. Di manapun berada, anggaplah lawan itu sebagai kaki tangan yang dapat mengantar kita menuju kepada keberhasilan dan kesuksesan.

Dalam dunia bisnis juga mengalami apa yang disebut dengan “Semakin tinggi pohon, semakin kencang tiupan angin”. Angin kencang itu hanya sesaat. Artinya mereka yang suka menjatuhkan akan berhenti dengan sendirinya karena akan kalah oleh kemenangan yang kita raih. Tetaplah percaya kepada diri sendiri dan yakin sepenuhnya kalau kita mampu menjadi orang yang sukses.

*********

“Semakin tinggi pohon, semakin kencang tiupan angin”, itu yang sering terjadi dalam kehidupan kita. Ketika kita berhasil, ada yang senang namun ada juga yang tidak senang. Orang yang tidak senang dengan keberhasilan kita, kemungkinan akan berusaha menjatuhkan atau minimal menjelekkan diri kita. Ini adalah hal biasa dalam kehidupan bermasyarakat. Sebenarnya ada yang lebih penting dari sekadar apa yang orang-orang lain bicarakan tentang diri kita, yakni urusan di dalam diri kita sendiri, salah satunya dalam aspek spiritual.

Tidak ada yang perlu dikejar atau disaingi karena pertarungan yang tak terkalahkan sebenarnya adalah dengan diri kita sendiri. Kita harus menyadari bahwa semakin tinggi pohon, semakin kencang tiupan angin. Pohon yang tinggi dan kencangnya tiupan angin dapat membuat kita sendiri terperangkap di dalamnya.

Semakin tinggi iman kita dalam pencapaian spiritual maka semakin berat rintangan yang harus dihadapi untuk mempertahankan iman yang telah kita capai. Jika kita sudah bisa mengatasi diri kita sendiri di level satu (pertama) maka akan lanjut ke level dua, tiga, empat, dan seterusnya. Ibarat seseorang bermain permainan (games), ada berbagai level yang terus meningkat sejak permainan dimulai.

Jika kita sudah mencapai tingkat iman yang baik, tantangan yang akan kita hadapi untuk melawan diri kita sendiri semakin kencang atau kuat. Oleh karenanya, segeralah menyadari bahwa perjuangan melawan diri sendiri jauh lebih bermakna daripada kita terlalu mempedulikan omongan orang-orang lain. Pertarungan terhadap diri sendiri tidak akan pernah berakhir jika penderitaan belum padam dan mencapai tujuan spiritual tertinggi kita.

Intinya keburukan atau “kekotoran batin” dalam diri kita itu berlapis-lapis banyaknya. Kita tidak tahu kapan kita akan terbebas dari semuanya dan mencapai tujuan spiritual tertinggi kita. Yang terpenting adalah terus berjuang untuk menjadi diri kita yang terbaik dalam kehidupan ini, niscaya kesuksesan dan kebahagiaan akan mengikuti ke manapun kita pergi.

Jangan pernah berhenti “bertarung” dengan diri sendiri untuk terus meningkatkan kualitas diri menjadi versi diri kita yang terbaik. Kita harus berupaya keras dan maksimal untuk mengeluarkan diri kita yang terbaik, yakni mengeluarkan potensi, bakat, dan kemampuan terbaik dari dalam diri kita. Niscaya kesuksesan dan kebahagiaan yang lebih luas dalam kehidupan akan menjadi milik kita.

“Lihatlah secara cermat dan dengan tenang ke dalam diri kita sendiri. Untuk meraih kebahagiaan yang sesungguhnya, hanya diri kita sendiri yang tahu dan hanya diri kita sendiri yang bisa merasakan kebahagiaan itu.”

(Diambil dari Buku “MotivAction – Motivation for Action”)

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

Red and white lighthouse with waves crashing against rocks under a stormy sky.
Suatu hari, teman sekelasnya mengancam dia agar tidak mengisi lembar ulangan dengan benar supaya temannya tersebut bisa mendapatkan nilai terbaik. Dia pulang ke rumah dengan menangis namun tidak berani menceritakan apa yang terjadi

Tulisan Terkait