Top 10 Penulis

Tiga Batang Dupa Gratis di Samping Hio Lo

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

incense, smoke, scent, hio
Photo by AndyBaron

            Perbedaan budaya, tradisi, dan cara pandang di kalangan Buddhis mengakibatkan agama Buddha menampilkan berbagai bentuk. Di Indonesia, beberapa wihara menyediakan hio lo (tempat untuk menancapkan dupa) yang diletakkan di luar ruangan kebaktian, biasanya di tempat terbuka supaya asap dupa langsung terbang ke udara.  Anda mungkin kenal istilah Cung-cung Cep alias Acung-Acung Nancep. Seseorang datang, mengambil dupa di dekat Hio Lo, masuk ke bakti sala atau langsung berdoa di sana, kemudian mengacungkan dupa sebanyak tiga kali ke kening, baru menancapkan dupanya.  Berbagai keinginan dan harapan diungkapkan dalam proses tersebut. 

            Memiliki keinginan, harapan, dan impian itu wajar. Kita tentu ingin banyak hal baik terjadi pada kehidupan kita. Orang tua ingin anaknya sukses, mahasiswa ingin lulus dan mendapatkan pekerjaan impian, para lajang ingin mendapatkan pasangan yang sesuai, dan lain sebagainya. Buddhis harus memahami bahwa impian mereka tidak dapat terwujud hanya dengan modal tiga batang dupa gratis yang disediakan di samping hio lo.

            Buddha telah mengajarkan bahwa hal-hal seperti umur panjang, kerupawanan, kebahagiaan, kemahsyuran, dan kelahiran di surga diharapkan, diinginkan, disukai, dan jarang diperoleh di dunia ini serta tidak dapat diperoleh melalui doa-doa atau aspirasi-aspirasi (AN 5.43). Dari ini kita dapat simpulkan bahwa berbagai impian dan harapan yang telah disampaikan lewat doa dan permintaan di hadapan altar Buddha perlu dibarengi dengan usaha dan upaya. “Ketika ini ada, itu ada, karena ini muncul, itu muncul “(SN 12.21). Ajaran ini mengingatkan kita untuk menciptakan sebab dan kondisi agar impian dan keinginan dapat terwujud.

            Selain menyampaikan permohonan dan harapan, Buddhis juga merapal antara lain paritta, sutra, dan mantra menggunakan berbagai bahasa seperti Pali, Sansekerta, Tibet, bahkan bahasa Indonesia dan bahasa lokal setempat.  Selain itu, berbagai persembahan yang memiliki simbol dan makna juga diletakkan di altar. Fakta bahwa tidak ada persembahan dari hasil pembunuhan di altar Buddha menunjukkan bahwa agama Buddha adalah agama yang berlandaskan kasih sayang dan praktik vegetarian cocok dan sesuai dengan semangat ajaran Buddha.         

            Berbagai jenis puja dan penghormatan kepada Buddha dilakukan karena wujud bakti seorang Buddhis kepada Buddha Dharma. Supaya bakti ini menjadi lebih baik, pemahaman tentang dua jenis pemujaan kepada Buddha perlu diketahui. Di antara dua pemujaan; dengan benda materi dan Dharma,  pemujaan dengan Dharma adalah yang terunggul (AN 2.156, DN.16).  

            Dalam Maha Parinibbana Sutta, pada peristiwa menjelang Buddha parinirwana, para dewa menghormati Buddha dengan bunga pohon api dan bubuk cendana surgawi yang jatuh dari langit, dan musik-musik surgawi yang dimainkan dari langit. Buddha  kemudian menunjukkan kepada Ananda apa yang sedang terjadi lalu menjelaskan bahwa itu bukan sepenuhnya menghormati, memuja, dan memuliakan Tathāgata.  Berlatih sesuai dengan ajaran, berlatih dengan benar, hidup sesuai dengan ajaran yang sesungguhnya merupakan penghormatan tertinggi.  

            Kisah Dhammapada syair 166 menceritakan tentang Attadattha Thera yang tidak pergi ke hadapan Buddha yang sebentar lagi akan parinirwana. Dia malah rajin berlatih karena ingin mencapai tingkat kesucian Arahat saat Buddha masih hidup.  Buddha memuji biksu Attadattha Thera ketika biksu lain melaporkannya, kemudian menjelaskan bahwa cara menghormati Tathāgata adalah dengan mempraktikkan Dharma yang telah diajarkan, bukan dengan memberikan bunga-bunga, wangi-wangian, dupa, atau datang menjenguk.

            Cara tepat menghormati Buddha adalah dengan praktik Dharma. Lain kali saat datang ke wihara, sempatkan untuk duduk hening sejenak mengamati nafas masuk dan nafas keluar setelah melakukan sujud-hormat. Memasang dupa dan melakukan permohonan tentu masih boleh. Namun harus sadar bahwa tindakan dan perbuatanlah yang paling menentukan apakah doa dan keinginan kita akan menjadi kenyataan atau tidak.

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

brown statue
Perilaku sombong merugikan karena umat tidak suka pandita yang sombong, dan tidak menghormati mereka. Kesombongan membangun tembok yang memisahkan pandita dengan umat sedangkan kerendahan hati adalah jembatan yang menghubungkan pandita dengan umat.

Tulisan Terkait