Top 10 Penulis

”Tujuan Hidup Yang Pantas Bagi Seorang Buddhis”

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

woman spreading hair at during sunset
Photo by Aditya Saxena

Dalam pengetahuan manajemen diri, ada empat kelompok orang, yakni: (1) Tidak punya tujuan hidup dan tentu saja tidak punya semangat dalam menjalani kehidupan ini, (2) Punya tujuan hidup tetapi tidak punya semangat untuk meraih tujuan hidupnya, (3) Punya tujuan hidup dan semangat tetapi semangatnya tidak cukup kuat atau kurang memadai untuk meraih tujuan hidupnya, dan (4) Punya tujuan hidup dan semangat yang cukup atau memadai untuk meraih tujuan hidupnya.

Kelompok orang yang pertama tentu saja merupakan orang-orang yang paling rendah tingkatnya dalam kehidupan ini. Sungguh menyedihkan jika dalam kehidupan ini seorang manusia sama sekali tidak memiliki tujuan hidup, tujuan keberadaannya sebagai seorang manusia. Jangankan tujuan yang berkaitan dengan orang lain, orang-orang kelompok ini bahkan tidak memiliki tujuan hidup bagi dirinya sendiri. Kehidupan ini adalah percuma bagi orang-orang seperti ini. Meskipun masih bernapas, orang-orang kelompok ini seakan-akan sudah mati. Ungkapan populer yang paling tepat ditujukan kepada kelompok orang pertama ini adalah “Kasihan banget deh lu….”.

Kelompok orang pertama ini seperti halnya air yang mengalir hanya mengikuti aliran tanpa pernah berupaya mencari tahu kemana arahnya dan akan tiba dimana nantinya. Orang-orang seperti ini mengikuti persis manusia lainnya yang ada di sekeliling mereka, dan tidak pernah berani berbeda dari lingkungannya. Orang-orang demikian seperti halnya setitik air yang mengalir mengikuti air-air yang mengalir di depan dan sekelilingnya menuju arah dan tempat yang sama.

Kelompok orang kedua sedikit lebih baik dari kelompok pertama karena mereka memiliki berbagai tujuan yang ingin diraih dalam kehidupan ini. Tujuan hidup mereka seringkali tidak hanya berkaitan dengan diri sendiri tetapi juga dengan orang-orang lain. Kesamaan kelompok kedua ini dengan yang pertama adalah meskipun memiliki tujuan hidup namun mereka sama sekali tidak memiliki semangat untuk bertindak guna merealisasikan berbagai tujuan hidup tersebut. Ungkapan populer yang paling tepat ditujukan kepada kelompok orang kedua ini adalah “Mimpi kali lu yeeee….”.

Orang kelompok kedua memiliki tujuan hidup atau lebih tepat keinginan-keinginan di masa depan terutama mendapatkan yang “lebih” dari yang diperoleh saat ini. Akan tetapi mereka tidak memiliki semangat sehingga tidak pernah berupaya untuk meraih tujuan-tujuan hidup mereka. Alhasil tujuan-tujuan hidupnya hanya sekedar mimpi yang tidak akan pernah menjadi kenyataan.

Kelompok orang ketiga jauh lebih baik dari kelompok kedua apalagi yang pertama. Orang-orang di kelompok ketiga memiliki berbagai tujuan hidup yang ingin diraih dalam kehidupan ini dan mereka juga memiliki semangat dalam bertindak guna mewujudkan berbagai tujuan hidup tersebut. Sayangnya semangat mereka kurang kuat sehingga sewaktu situasi dan kondisi tidak sesuai dengan yang mereka harapkan maka mereka akan jatuh dan sulit atau bahkan tidak mampu bangkit lagi. Mereka kemudian membiarkan berbagai tujuan hidupnya menguap dari pikiran mereka. Ungkapan populer yang paling tepat ditujukan kepada kelompok orang ketiga ini adalah “Sayang banget deh lu….”.

Orang-orang kelompok ketiga adalah mereka yang memiliki tujuan hidup, bersemangat, dan berupaya untuk merealisasikannya. Sayangnya mereka kurang tabah, ulet, sabar, dan kuat dalam perjalanan menuju garis finish yang diinginkannya. Begitu menemui kesulitan, masalah atau kegagalan, langsung semangatnya kuncup dan kemudian menjadi layu. Orang-orang ini lalu kembali menjalani hidup apa adanya. Beberapa di antaranya bahkan tidak pernah berani memiliki tujuan hidup lagi.

Kelompok orang keempat adalah yang terbaik. Orang-orang di kelompok keempat ini tidak hanya memiliki berbagai tujuan hidup bagi dirinya sendiri maupun berkaitan dengan orang lain. Mereka juga memiliki semangat yang memadai dalam menjalani turun-naik dan jatuh-bangunnya kehidupan dalam upaya meraih berbagai tujuan hidupnya. Ungkapan populer yang paling tepat ditujukan kepada kelompok orang keempat ini adalah “Sip banget deh lu….”.

Orang-orang kelompok keempat ini memiliki tujuan yang jelas dalam hidupnya. Mereka terus belajar dan berupaya keras menggapai apa yang diimpikannya. Selalu mengevaluasi jarak saat ini dengan tujuan di depan, mengantisipasi kendala, mengenali kesempatan, dan lain-lain. Mereka juga mampu bangkit kembali untuk berjalan tegak walaupun terpeleset, terjatuh atau bahkan terguling dalam perjalanan menuju tujuan tersebut. Meskipun mereka mengalami berbagai kegagalan, akan tetapi jumlah kesuksesan dan pencapaiannyapun pasti jauh lebih mengesankan daripada orang-orang dalam tiga kelompok lainnya.

Terdapat berbagai tujuan hidup yang wajar atau pantas dimiliki oleh seorang buddhis, di antaranya: (1) Kaya, (2) Sehat, (3) Umur panjang, (4) Kedudukan/pangkat/status yang baik, dan (5) Setelah mati terlahir di kehidupan yang lebih baik.

Tujuan Hidup Menjadi Kaya

Seorang buddhis perumah tangga berhak dan malah berkewajiban untuk menjadi kaya. Kaya dalam hal ini tidak hanya berarti kaya harta benda (materi) saja sehingga bisa lebih leluasa dalam berbuat banyak kebaikan. Seorang buddhis juga harus kaya pengetahuan dan keterampilan berkaitan dengan duniawi maupun non-duniawi sehingga bisa lebih mudah untuk menjadi seorang yang bijaksana dalam menjalani kehidupan ini. Yang tidak kalah pentingnya, bahkan mungkin yang terpenting bagi seorang buddhis adalah kaya dalam perbuatan baik, melalui pikiran, ucapan, maupun badan jasmani sehingga bisa menyiapkan bekal guna menjalani kehidupan-kehidupan selanjutnya dengan lebih baik sampai merealisasi tujuan akhir, yakni nibbana.

Kekayaan materi yang diperoleh oleh seorang buddhis harus sesuai dengan jalan Dhamma. Jika ia mengumpulkannya dengan cara yang benar, maka ia akan dihormati oleh masyarakat dan lingkungannya. Jika suatu pekerjaan yang dilakukan membawa manfaat tidak hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga bagi orang lain maka pekerjaan itu dapat disebut mulia dan terpuji. Demikianlah yang harus direalisasikan oleh seorang buddhis yang baik dalam mencari nafkah dan mengumpulkan kekayaan.

Dalam Aṅguttara Nikāya, dijelaskan bahwa seseorang seharusnya menghindari diri dari lima macam perdagangan yang bisa merugikan atau bahkan membahayakan dirinya sendiri maupun makhluk lain, yaitu perbudakan, senjata, makhluk hidup, minuman keras atau obat-obat terlarang, dan racun.

Selain harta benda duniawi, yang tidak kalah pentingnya adalah memupuk kekayaan dalam bentuk pengetahuan dan keterampilan, baik melalui cara formal maupun non formal. Kita bisa menyesuaikan caranya sesuai dengan kemampuan dan kecocokan diri masing-masing. Jangan pernah berhenti belajar karena orang yang tidak membuka dirinya untuk hal-hal baru, tidak pernah meng-update dirinya dengan perkembangan luar, tidak pernah menambah pengetahuan dan keterampilannya, seakan-akan sudah “mati” dalam hidup sekarang.

Yang paling penting adalah menjadi kaya dalam hal perbuatan baik. Tidak ada bekal selain perbuatan yang sudah dilakukan, yang dapat kita bawa sewaktu melangkah dalam kelahiran-kelahiran selanjutnya. Tidak ada keluarga, teman atau harta benda yang menemani kita nantinya.

Tujuan Hidup Menjadi SEHAT

Seorang buddhis juga wajar dan pantas memiliki tujuan hidup untuk menjadi sehat. Sehat dalam hal ini tidak hanya berarti sehat fisik atau badan jasmani. Seorang buddhis juga harus sehat pikiran atau batinnya. Sehat jasmani dan batin ini tentu saja merupakan kombinasi ideal yang diharapkan oleh setiap buddhis. Kombinasi ideal ini akan lebih mungkin tercapai jika seorang buddhis bisa menjaga keberadaan dirinya semaksimal mungkin dalam lingkungan yang sehat, baik lingkungan fisik maupun lingkungan pergaulan dengan orang-orang lainnya.

Sesuai perbuatan baik yang pernah ditanam akan membuat seseorang bisa mendapatkan buah dalam bentuk kesehatan. Akan tetapi sesuai ajaran Buddha, tidak ada sesuatu yang berkondisi akan kekal adanya. Jangan pernah bermimpi untuk terus sehat tanpa pernah sakit. Pada waktunya, sesehat apapun seorang manusia, akan meninggal pula. Meskipun seseorang masih sehat dan bersemangat, di usia tuanya pasti akan mengalami tubuh yang rapuh dan suatu ketika harus mengakui keperkasaan sang waktu menggilas dirinya.

Kesehatan fisik atau badan jasmani dapat diraih oleh seorang buddhis, di antaranya dengan makan makanan bergizi, berolah raga secara teratur, menghindari kebiasaan hidup yang tidak sehat, dan lain sebagainya.

Pikiran dan batin akan sehat jika seorang buddhis sering menjaga pikiran-pikiran baik dan positif. Selain itu latihan meditasi secara rutin, sering bermuditā citta (pikiran ikut berbahagia terhadap kebahagiaan dan keberhasilan orang lain), membaca paritta atau sutra, dan lain-lain dapat menjaga agar pikiran dan batin tetap sehat dan terkendali.

Lingkungan di dalam rumah, di sekitar rumah, di kantor, di tempat usaha, dengan teman-teman pergaulan dapat berkontribusi terhadap kesehatan seseorang. Dengan menghindari sebisa mungkin lingkungan-lingkungan kotor dan tidak baik, niscaya seorang buddhis akan menjadi lebih sehat.

Tujuan Hidup Berumur Panjang

Seorang buddhis juga wajar dan pantas memiliki tujuan hidup untuk berumur panjang. Sesuai perbuatan baik yang pernah ditanam akan membuat seseorang bisa mendapatkan buah dalam bentuk umur panjang. Akan tetapi sesuai ajaran Buddha, tidak ada sesuatu yang berkondisi akan kekal adanya. Pada waktunya, yang pernah dilahirkan pasti akan meninggal juga.

Berumur panjang dalam pengertian buddhis adalah mencapai atau melebihi usia rata-rata manusia di zamannya. Untuk zaman sekarang karena sudah hampir 26 abad berlalu sejak Buddha Gotama parinibbana berarti usia rata-rata manusia di zaman Buddha Gotama (= 100 tahun) dikurangi 26 tahun sehingga diperoleh 74 tahun. Inilah patokan panjang usia rata-rata yang bisa digunakan seorang buddhis di zaman sekarang ini.

Tujuan Hidup Memiliki Kedudukan/Pangkat/Status

Seorang buddhis juga wajar dan pantas memiliki tujuan hidup untuk memiliki kedudukan/pangkat/status yang membuatnya terpandang di mata orang-orang lainnya. Adalah wajar dan pantas seorang buddhis memiliki keinginan untuk punya kedudukan/pangkat yang tinggi, baik di tempat kerja, masyarakat, lingkungan agama, atau dalam pemerintahan.

Yang perlu disadari bahwa kedudukan/pangkat/status yang dikejar tersebut bukanlah berarti hanya yang formal dan mentereng saja, misalnya di perusahaan atau organisasi. Jangan juga silau oleh kedudukan/pangkat/status sehingga menghalalkan segala cara untuk meraihnya. Setelah kedudukan/pangkat/status ada dalam genggaman, janganlah menggunakan kedudukan/pangkat tersebut untuk memperkaya diri sendiri secara tidak benar. Gunakan itu semua secara maksimal untuk membawa manfaat bagi diri sendiri, keluarga, lingkungan, dan makhluk-makhluk lainnya.

Sebenarnya yang patut dipahami, jika seorang buddhis menjalankan perannya secara maksimal, apapun perannya itu, baik di dalam keluarga, masyarakat, tempat kerja, lingkungan agama, bangsa dan negara, sesungguhnya ia berhak akan kedudukan/pangkat/status yang baik dan terpandang. Jika seorang buddhis melakukan fungsi, tugas, kewajiban, dan tanggung jawabnya dengan baik dan benar maka kedudukan/pangkat/status nya otomatis menjadi baik dan tinggi. 

Tujuan Hidup Setelah Mati Terlahir Di Kehidupan Yang Lebih Baik

Seorang buddhis juga wajar dan pantas memiliki tujuan hidup untuk terlahir kembali di kehidupan yang lebih baik setelah meninggal. Kehidupan berikutnya yang lebih baik tersebut termasuk terlahir di alam dewa (surga) atau alam-alam yang lebih tinggi lainnya. Namun mesti diingat bahwa terlahir kembali sebagai manusia bukanlah pilihan yang buruk. Asalkan terlahir kembali sebagai manusia tersebut dengan kondisi yang lebih baik dari sekarang, kalau bisa dalam kondisi manusia yang terbaik secara jasmani, pikiran, dan lingkungan. Alam manusia menyediakan kebaikan dan keburukan. Alam manusia memberikan kesempatan berlimpah untuk memupuk karma baik. Hal ini berbeda dengan kehidupan di alam dewa (surga) dimana yang ada hanyalah kebaikan, kesenangan, dan kenikmatan sehingga kesempatan berbuat baik menjadi sangat terbatas. Istilahnya jika terlahir di alam kehidupan para dewa (surga), hanyalah menikmati buah-buah karma baik yang pernah dilakukan dimana kesempatannya relatif kecil untuk menanam karma-karma baik yang baru.

Lima tujuan hidup itulah yang wajar atau pantas diupayakan dengan penuh semangat oleh seorang buddhis dalam kehidupan ini. Jadilah seorang buddhis yang masuk dalam kelompok orang keempat, yakni memiliki tujuan hidup dan semangat yang cukup atau memadai untuk meraih berbagai tujuan hidupnya.

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

a close-up of a hand
Pernahkah Anda kenal dengan orang yang hanya mementingkan diri sendiri dan hidupnya benar-benar bahagia?
woman in white shirt wearing eyeglasses
Dia terlihat bingung untuk menyeberangi sungai di depannya yang airnya cukup tinggi dan deras.

Tulisan Terkait