melalui Program Pelatihan Berkelanjutan
Pindah dari Medan ke Jakarta membuka pintu kesempatan saya untuk bertemu Buddhadharma. Dari yang sebelumnya hanya tahu kalau umat Buddha sembahyang tiap Kamis malam Jumat, saya belajar tentang karma, kelahiran berulang, lima sila, dan lain sebagainya. Andai tidak mengenal Buddhadharma, saya mungkin akan menikmati memukul mati ikan gurame yang sudah setengah hidup di restoran tempat saya bekerja ketika duduk di kelas 2 SMP.
Ya, itu tugas saya setiap pagi selama hampir setahun karena saya pagi bekerja dan siang sekolah. Alih-alih memukul secara kejam, saya hantam kepala mereka dengan balok kayu sambil berucap ‘sabbe satta bhavantu sukkhittata – semoga terlahir di alam bahagia’. Sekolah minggu Buddhis yang dikelola oleh kakak-kakak di Generasi Buddhis Perniagaan (GBP), sayangnya sekarang sudah bubar, adalah tempat saya mengenal Buddhahdarma, turut membentuk karakter saya, dan menghantarkan saya bertemu dengan banyak orang baik hingga hari ini.
Oleh sebab itu, pengembangan kompetensi guru GABI (Gelanggang Anak-anak Buddhis Indonesia)/SMB (Sekolah Minggu Buddhis) urgen untuk dilakukan karena pendidikan agama Buddha menumbuhkan karakter anak, SMB adalah tempat untuk mendidik anak-anak sebagai generasi penerus, dan pembelajaran agama Buddha yang efektif membutuhkan guru yang kompeten.
Sebuah peristiwa dinilai secara berbeda oleh masing-masing orang yang melihatnya. Demikian juga dengan keputusan untuk melakukan atau tidak melakukan suatu perbuatan. Ada yang malu saat terlambat bahkan meskipun hanya dua menit. Yang terlambat satu jam dan merasa tidak punya dosa juga ada. Ada yang memilih untuk memaklumi. Yang mengomel-ngomel juga ada. Korupsi atau jujur, hemat atau boros, setia atau selingkuh, dan lain sebagainya sangat erat berhubungan dengan siapa diri seseorang sesungguhnya. Jati diri seseorang itulah yang disebut dengan karakter. Bahasa gaulnya “Oranngya memang begitu”.
Arifin (2022) menyatakan bahwa pembinaan karakter diri berkaitan erat dengan pendidikan agama Buddha yang diajarkan berulang-ulang hingga menjadi suatu kebiasaan baik. Salah satu ajaran Buddha untuk pengembangan karakter bagi seorang Buddhis dapat bersumber dari Dhammapada 183 Buddha mengajarkan untuk tidak melakukan perbuatan negatif/tidak bermanfaat, melakukan banyak perbuatan positif/bermanfaat, dan melatih batin/pikiran untuk mencapai penggugahan.
Tiga hal ini adalah cara pandang sekaligus perilaku yang mengakibatkan kebaikan, kesejahteraan, dan kebahagiaan bagi diri sendiri dan banyak makhluk. Perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan tiga hal tesebut akan menjadi jati diri seseorang apabila dipraktikkan terus menerus sejak masih kecil.
Salah satu wadah untuk mengajarkan Buddhadharma kepada anak-anak adalah SMB/GABI. Fungsi SMB adalah membentuk karakter peserta didik agar sesuai dengan ajaraa agama Buddha (Wijoyo & Nyanasuryanadi, 2020). Muawaroh (2020) mengemukakan bahwa karakter anak dapat dibentuk dengan baik melalui pendidikan lewat pembelajaran agama karena perilaku anak timbul dari rekaman di otak yang bersumber dari pengetahuan yang didapat.
SMB/GABI adalah pendidikan nonformal untuk mendidik anak-anak sejak kecil dengan Buddhadharma agar mereka memiliki karakter dan moral anak-anak Buddhis yang baik, punya etika dan keyakinan yang kuat ( Alianto & Sutarno, 2022 ; Lamirin & Siu, 2021). SMB/GABI juga membantu orang tua dalam hal pendidikan karakter anak melalui agama Buddha.
Sementara itu, Liong, Keti dan Pamungkas (2020) menyatakan bahwa anak-anak sebagai generasi penerus Buddhis perlu diberikan dasar agama yang kuat dan oleh sebab itu SMB adalah wadah bagi anak-anak Buddhis. Dengan kata lain, SMB/GABI adalah sarana untuk mendidik anak-anak Buddhis dengan pendidikan moral melalui Buddhadharma agar mereka menjadi generasi penerus yang lebih baik yang memiliki pengetahuan, cerdas, dan punya budi pekerti luhur (Setyaningsih, 2019). Mendidik anak-anak Buddhis di SMB/GABI adalah sebuah langkah strategi untuk menciptakan generasi penerus agama Buddha.
Fungsi SMB/GABI dalam mendidik anak-anak Buddhis agar mereka sejak dini memiliki karakter baik membutuhkan guru yang kompeten sebagai salah satu faktor pendukung. Lamirin & Siu (2021) menyatakan bahwa guru sangat pengaruh dalam membuat anak senang belajar dan mencintai pelajarannya sehingga guru harus selalu mengembangkan diri dan mengasah kompetensi agar terus menjadi sosok yang insipirasional bagi anak-anak.
Mereka harus punya loyalitas yang tinggi terhadap kegiatan SMB selain berkompeten (Setyaningsih, 2019). Kompetensi yang mereka perlu tingkatkan antara lain adalah pengetahuan teoritis mengenai agama Buddha maupun pengetahuan metode pengajaran pendidikan (Wijoyo & Nyanasuryanadi, 2020). Guru yang kompeten akan mampu untuk membuat metode mengajar menjadi bervariasi agar siswa tidak bosan (Setyaningsih, 2019 dan merancang proses belajar yang efektif, kreatif, dan menyenangkan sehingga anak-anak senang dan nyaman, dan mau datang kembali ke pertemuan-pertemuan berikutnya (Muawaroh, 2020).
Salah satu strategi untuk mengembangkan kompetensi guru SMB/GABI adalah pelatihan untuk meningkatkan kemampuan mengajar mereka, khususnya guru yang masih muda (Lamirin & Siu, 2021). Pelatihan adalah sebuah aktivitas pendidikan untuk meningkatkan kompetensi SDM dan melatih mereka dalam hal pengetahun, keterampilan, dan sikap agar mampu melakukan dan menyelesaikan tugas secara efektif dan efisien (Wahyuningsih, 2019). Para guru SMB/GABI dilatih agar mampu mengajar secara inspiratif dan menyenangkan sehingga anak-anak mencintai SMB dan ingin datang ke wihara untuk belajar Buddhadhama.
Daftar pustaka
Alianto, A., & Sutarno, S. (2022). Studi Tentang Disiplin Kerja Guru Sekolah Minggu Buddhis Vihara Paramitta Buddhis Centre Duri. ESCAF, 1(1), 304-310.
Arifin, R. (2022). Pendidikan Karakter Dalam Perspektif Agama Buddha. Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra, 12(1), 95-102.
Lamirin & Siu (2021) Pendampingan Lembaga Sekolah Minggu Buddha Provinsi Sumatera Utara (Berdasarkan Studi Evaluasi Sekolah Minggu Buddha) Jurnal Abdimas STMIK DPR https://doi.org/10.47927/jasd.v1i2.129
Liong Houw, K., & Pamungkas, B. J. (2020). Pelatihan Pengajar Pendamping pada Sekolah Minggu Buddha Vihara Siripada Tangerang Selatan. Jurnal Maitreyawira, 1(2), 29-38.
Muawaroh, M. L. (2020). Pengaruh Pembelajaran Agama Terhadap Spiritual Anak Di Sekolah Minggu Vihara Buddhayana Surabaya. Atta’dib Jurnal Pendidikan Agama Islam, 1(1), 15-33.
Setyaningsih, S. (2019). Analysis Of Sunday Buddhist School In Griya Samadhi Santighosa. Jurnal Pencerahan, 12(2), 43-55.
Wijoyo, H., & Nyanasuryanadi, P. (2020). Analisis Efektifitas Penerapan Kurikulum Pendidikan Sekolah Minggu Buddha Di Masa Pandemi COVID-19. JP3M: Jurnal Pendidikan, Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat, 2(2), 166-174.

















