Bagian ke-enam dari konsep Etos Kerja Catur Dharmadasa+
Catur Dharmadasa+ dikembangkan untuk menjadi etos kerja abdi Dharma dan pandita/dharmaduta yang menjadi budaya kerja individu dan organisasi sebagai wujud karakter dan perilaku positif para abdi Dharma dan pandita/dharmaduta. Catur Dharmadasa+ diharapkan menjadi budaya organisasi dalam bekerja dan melayani Buddha Dharma terdiri dari empat dimensi yaitu tulus, cerdas, gotong royong dan tanggungjawab, (plus rendah hati dan kompeten bagi pandita/ dharmaduta), dan dibangun di atas fondasi Peduli Melayani
a. Tulus
Etos pertama dan sangat mendasar adalah tulus. Tulus (ketulusan) adalah sifat mulia, menjadi dasar melakukan kebajikan demi suatu tujuan yang baik, tanpa mengharapkan imbalan, bahkan di titik tertentu lebih mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. Ketulusan menghasilkan kegembiraan dan kepuasan dalam kebajikan (Wijaya-mukti, 2006). Buddha mengajarkan bahwa Dharma boleh disampaikan kepada yang lain bila dilandasi ketulusan yaitu tanpa menghendaki perolehan materi (AN 5.159). Seorang abdi Dharma mendapat kesempatan untuk memberikan derma yang tertinggi. Dibandingkan dengan pemberian materi, pemberian ajaran, berbagi ajaran, mendukung ajaran, dan persembahan ajaran adalah yang lebih baik (Iti 100). Ketulusan, oleh sebab itu, adalah kesukarelaaan untuk melakukan kebajikan tanpa mengharapkan imbalan apa pun.
Beberapa sikap dan perilaku sebagai indikator tulus antara lain adalah:
1. Melayani tanpa niat untuk mendapatkan keuntungan pribadi apa pun.
2. Melayani tanpa menetapkan tarif.
3. Melayani tanpa menjual jasa/produk pribadi kepada umat yang sedang dilayani.
4. Melayani meskipun tidak ada kesempatan untuk mendapatkan keuntungan pribadi.
5. Melayani semua umat dengan standar kualitas yang sama.
6. Melayani dengan suka cita
7. Menyadari secepat mungkin emosi negatif yang muncul lalu merenungkan motivasi mulia ketika kecewa karena suatu keputusan, tindakan atau ucapan sesama abdi Dharma.
8. Melayani tanpa mengungkit jasa yang pernah dilakukan.
b. Cerdas
Cerdas adalah dimensi kedua Catur Dharmadasa+. Cerdas menurut KBBI daring adalah “sempurna perkembangan akal budinya (untuk berpikir, mengerti, dan sebagainya); tajam pikiran”. Beberapa kata yang sinonim dengan ‘cerdas’ menurut kamus Tesaurus daring antara lain adalah pintar, bijak, kreatif, kompeten, dan cerdik; semua itu dibutuhkan para abdi Dharma untuk menyelesaikan masalah, menciptakan suatu produk, menghasilkan berbagai jenis karya, dan memberikan jasa pelayanan. Dengan kata lain, mereka menerapkan konsep kerja cerdas dalam menunaikan tugas bajik dan mulia— secara efektif dan efisien—dalam memutar roda Dharma. Efektif dan efisien yang dimaksud di sini adalah “berhasil guna dan berdaya guna, artinya tercapainya tujuan dengan penghematan tenaga, waktu, dan biaya” (Herawati et al., 2020).
Kerja cerdas berhubungan dengan pengembangan dan penerapan pengetahuan ke dalam pekerjaan sehingga pengambilan keputusan menjadi lebih cepat karena pertimbangan yang matang (Lestari et al., 2020). Buddha menyatakan bahwa para dewa dan Brahmā memuji siswa yang rajin belajar, dan menyatakan bahwa mereka adalah ahli dharma yang memiliki kebijaksanaan laksana kepingan uang yang terbuat dari emas gunung yang dihaluskan (AN 4.6). Kerja cerdas membutuhkan kesadaran para abdi Dharma untuk mengembangkan pengetahuan dan kecakapan melalui partisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran yang diselenggarakan oleh organisasi mereka masing-masing
Beberapa sikap dan perilaku sebagai indikator cerdas/kerja cerdas antara lain adalah:
1. Mendahulukan pengambilan keputusan berdasarkan data.
2. Menerapkan manajemen rapat.
3. Menerapkan manajemen berbasis proyek.
4. Menerapkan prinsip ‘sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui”
5. Antusias untuk mengikuti kegiatan peningkatan kompetensi (menambah pengetahuan, mengasah keterampilan, dan mengubah sikap)
c. Gotong Royong
Dimensi ketiga Catur Dharmadasa+ adalah gotong royong. Bangsa Indonesia sejak lama telah menerapkan gotong royong yang merupakan salah satu warisan budaya sosial di negeri ini. Kebiasaan saling membantu di lingkungan tempat tinggal, tempat kerja, atau rumah ibadah memperkuat dan menyehatkan hubungan antara sesama. Kekuatan kolektif banyak orang mempercepat pencapaian tujuan.
Perjalanan Buddha Dharma dari India hingga menyebar ke lima benua dan berkembang hingga saat ini adalah hasil kerja banyak pihak. Para biksu dan biksuni, upasaka/upasika, bangsawan, hartawan, raja, dan pihak-pihak yang tidak dapat dituliskan satu per satu di sini telah memberikan sumbangsih mereka untuk kelestarian dan penyebaran Buddha Dharma sehingga hari ini kita masih dapat mempelajari dan mendapatkan manfaat dari mempraktikkannya. Ini adalah suatu pekerjaan besar dan mulia yang dilakukan bersama-sama. Gotong royong telah terbukti mampu mempertahankan Buddha Dharma hingga tetap ada hari ini.
Gotong Royong adalah istilah dalam Bahasa Jawa yang bersumber dari kata Gotong (“nggotong” kata orang Jawa) yang artinya memikul dan Royong yang terinspirasi dari pohon yang ada di alun-alun keraton Jogja. Gotong Royong dapat dimaknai sebagai ‘dengan bersama-sama’. Titik berat gotong royong adalah kepentingan bersama dalam wujud tindakan penuh semangat tanpa pamrih oleh individu. Dua jenis gotong royong, menurut Koentjaraningrat, adalah gotong royong tolong menolong dan gotong royong kerja bakti (Pambudi & Utami, 2020)
Gotong royong membutuhkan keharmonisan. Buddha mengajarkan bahwa kehangatan hati dalam bentuk kebaikan melalui pikiran, ucapan dan perbuatan, saling berbagi materi, menjaga moralitas, dan memiliki andangan bersama adalah sebab-sebab saling menghormati, keharmonisan dan persatuan (AN 6.12). Selain itu, memberi dan membantu orang lain, berucap dengan ramah, memperlakukan orang lain dengan sama, dan menyatukan orangorang mengakibatkan kelahiran di surga karena itu adalah kebajikan yang mulia (DN 30).
Beberapa sikap dan perilaku sebagai
indikator gotong royong antara lain adalah:
1. Segera membantu saat melihat ada rekan yang sedang kesusahan dalam melakukan suatu tugas.
2. Menerima keahlian orang lain yang lebih muda/junior.
3. Bersedia meminta bantuan.
4. Senang dan susah bersama-sama.
5. Adil dalam pembagian tugas.
7. Menuliskan tanggapan di grup pesan singkat
d. Tanggung jawab
Dimensi keempat Catur Dharmadasa+ adalah tanggung jawab. Meskipun menjadi seorang abdi Dharma adalah panggilan, tetapi ini tidak berarti mereka boleh suka-suka meskipun rela karena umat tetap membutuhkan pelayanan terbaik (Lim, 2022). Tulus, tanpa pamrih, atau sukarela akan menjadi lebih baik bila ditambahkan dengan tanggung jawab. Sifat bertanggungjawab adalah salah satu ciri orang bijaksana (AN 2.99).
Tanggung jawab terkait dengan penyelesaian tugas atau pekerjaan dengan tepat waktu (Rifmanesi et al., 2019; Yusuf, 2018). Salurante et al., (2021) menjelaskan bahwa etika tugas, kewajiban dan kebajikan merupakan kesatuan sebagai pendorong perwujudan tanggung jawab secara jelas dan nyata sehingga suatu perbuatan menjadi bermakna. Dengan bertanggung jawab, seseorang memenuhi tuntutan moral dalam suatu hubungan, menunjukkan akuntabilitas, dan perilaku etis. Suatu tugas yang diselesaikan dengan baik adalah kebajikan yang akan dimiliki sendiri oleh pelakunya karena “saya adalah pewaris perbuatan saya sendiri, yang baik maupun yang buruk” (AN 5.57).
Beberapa sikap dan perilaku sebagai
indikator tanggung jawab antara lain adalah:
1. Datang tepat waktu sesuai janji yang telah diutarakan.
2. Menyerahkan laporan pertanggungjawaban tepat waktu.
3. Jujur dalam penggunaan anggaran.
4. Mengembalikan barang/perlengkapan yang dipinjam sesuai kondisi saat barang tersebut pertama kali diambil.
5. Merapikan ruangan setelah selesai digunakan.
6. Merespon pertanyaan dan keluhan dari berbagai pihak yang menuntut jawaban.
Bersambung ke bagian 7.
Daftar Pustaka
Herawati, S., Arafat, Y., & Puspita, Y. (2020). Manajemen Pemanfaatan Sarana Dan Prasarana Pembelajaran. Attractive: Innovative Education Journal, 2(3), 21–28.
Lestari, A. N., Fathoni, A., & Wulan, H. S. (2020). The Effect Of Work Ethos (Hard Work, Intelligent Work, And Cliff Work) On Employee Performance (Case Study In Ud. Makmur Ceria Abadi). Journal of Management, 6(1).
Lim, H. (2022). Profit, Product, People, dan Process dalam Organisasi Buddhis. https://www.kompasiana.com/gruppenulismettasik0279/632ce2e54addee6f6c2268e3/profit-product-people-dan-process-dalam-organisasi-buddhis
Pambudi, K. S., & Utami, D. S. (2020). Menegakkan Kembali Perilaku Gotong–Royong Sebagai Katarsis Jati Diri Bangsa. CIVICUS: Pendidikan-Penelitian-Pengabdian Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan, 8(2), 12–17.
Rifmanesi, Yusuf, Elfianto, & Yanti, Budi. (2019). Pengaruh Komunikasi dan Tanggung Jawab terhadap Kinerja Pegawai pada Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Barat. Manajemen Dan Kewirausahaan, 10(1), 38–48.
Salurante, T., Silaen, R., Keluanan, Y., & Belo, Y. (2021). Tanggung Jawab Menjalankan Protokol Kesehatan Di Tengah Pandemi Covid-19 Ditinjau Dari Perspektif Etika Kristen. Visio Dei: Jurnal Teologi Kristen, 3(1), 63–83.
Wijaya-mukti, K. (2006). Wacana Buddha-Dharma. Jakarta: Yayasan Dharma Pembangunan.
Yusuf, N. (2018). Pengaruh Kepemimpinan, Tanggung Jawab, Kedisiplinan Dan Kerjasama Terhadap Kinerja Pegawai di Universitas Gorontalo. Gorontalo Development Review, 1(1), 15–28.

















