Perjalanan dari kota Batu, Malang menuju Wlingi, Blitar terasa lambat, karena jalan yang tidak terlalu lebar dan padatnya kendaraan. Kami berangkat dari kota Batu, jam sembilan, tiba di lokasi sekitar jam 12 siang.
Pintu gerbang Bhodigiri tertutup rapat, salah satu dari kami turun dan bertanya, akhirnya pintu dibuka petugas. Petugas menjelaskan bahwa Bhante Uttamo tidak ada di tempat. Beliau hanya ada pada masa Vassa selama tiga bulan, sisanya Bhante keliling Indonesia.
Dua belas tahun yang lalu ketika saya bertemu beliau, sambil tertawa beliau mengatakan: “Banyak umat yang mengatakan susah bertemu saya. Saya selalu ada di sini selama Vassa”.
Masa Vassa artinya adalah hujan, pada zaman Sang Buddha Gautama, musim pada musim hujan para Bhikkhu berdiam di satu tempat, karena selama musim hujan kondisi tidak memungkinkan untuk bepergian. Selama menetap di satu tempat, para Bhikkhu belajar, praktik dan berlatih meditasi, biasanya dibawah bimbingan Bhikkhu yang lebih senior.
***
Kami didampingi oleh pak Loky, petugas yang juga bertindak sebagai Tour Guide. Sebelum bernama Bodhigiri, disebut sebagai Panti Semedi Balerejo, karena merupakan tempat untuk berlatih meditasi (semedi) yang bertempat di desa Balerejo.
Pak Loky kami begitu antusias menjelaskan keadaan Bodhigiri yang luasnya sekitar 7 hektar. Komplek terletak di sebuah bukit, jika kalau dari udara terlihat seperti bentuk huruf B, kebetulan juga mewakili kata “Bodhi” yang artinya pencerahan. Bodhigiri yang artinya adalah Gunung Pencerahan.
Di tempat ini dahulu Bhante Uttamo sering bermediasi sendirian, tetapi karena banyaknya umat yang berkunjung maka dibangunlah tempat yang lebih besar, ternyata banyak umat juga yang ingin berlatih meditasi di sana, sehingga komplek bangunan semakin luas dan fasilitas untuk bermeditasi semakin baik.
***
Dengan penunjuk sinar laser, pak Loky menunjuk sebuah jendela dengan gambar ulat, kepompong dan kupu-kupu, dijelaskan bahwa semua relief yang ada di Bodhigiri kalau dijelaskan butuh waktu enam jam (ada rekamannya). Semua ini dirancang oleh Bhante Uttamo untuk mempermudah pada pengunjung belajar Dhamma dengan simbol-simbol yang sederhana.
***
Ulat itu adalah simbol dari manusia, yang diliputi oleh keserakahan, kebencian dan delusi. Sejak menetas ulat-ulat selalu makan tiada hentinya. Satu daun habis, pindah ke daun lainnya. Terus-menerus, bahkan bisa terjadi semua daun habis dimakan oleh ulat-ulat tersebut.
Ulat-ulat ini ketika menetas tidak ada pilihan, lahir di tanaman tersebut dan akan menghabiskan seluruh tenaganya untuk makan dan makan. Tidak peduli apakah tanaman itu akan mati atau tidak, mereka terus memakan daun-daunnya.
Begitulah manusia yang diliputi oleh keserakahan, kebencian dan delusi. Terus mengejar ke sana-sini dengan penuh gairah tanpa peduli walaupun merusak dirinya.
Ketika tiba waktunya ulat-ulat itu berhenti makan, lalu mengurung diri dan berubah menjadi kepompong. Tidak demikian dengan manusia, kebanyakan terus saja mengejar ke sana-sini sampai akhir hayatnya, tidak pernah berhenti.
***
Ulat yang menjadi kepompong, artinya berhenti makan, diam dan merubah diri. Tidak semua manusia memahami kata “cukup” seperti ulat-ulat itu, hanya mereka yang mengerti dapat berkata “cukup”.
Akhirnya ketika tiba waktunya, kepompong itu terbuka, keluarlah seekor kupu-kupu yang indah, ia bukan lagi ulat yang rakus, ia telah menjadi kupu-kupu dan bebas terbang ke mana ia akan pergi.
Kupu-kupu ini bebas mencari makan ke manapun, bunga manapun. Tetapi ketika ia hinggap di bunga-bunga tersebut, ia tidak merusak, sebaliknya ia membantu terjadinya penyerbukan, sehingga tanaman tersebut menghasilkan buah.
Kupu-kupu adalah simbol dari manusia-manusia yang sudah sadar, tidak merusak seperti ulat-ulat yang rakus. Kemanapun mereka pergi akan membantu, menolong yang belum terbebaskan, belum sadar, agar suatu saat juga dapat terbebaskan seperti dirinya. Terbebas dari penderitaan.
***
Dalam perjalanan pulang, teringat bahwa beberapa hari lagi hari Waisak. Peringatan perjuangan Pangeran Siddharta Gautama untuk mencari cara agar terbebaskan dari penderitaan.
Terlahir sebagai seorang Pangeran, hidup dengan kecukupan, disayangi oleh keluarga, dicintai oleh rakyatnya, tidak membuatnya bahagia. Apalagi ketika mengetahui bahwa semua orang akan sakit, tua dan akhirnya mati.
Tiada siapa pun jika ia dilahirkan dapat bebas dari sakit, tua dan kematian. Semua anggota keluarga yang menyayanginya juga akan sakit, tua dan mati. Rakyat yang mencintainya juga akan mengalami hal yang sama.
Kesenangan duniawi tidak akan membebaskan seseorang dari sakit, tua dan mati. Saat itulah beliau sadar bahwa harus mencari cari lain agar terbebas dari penderitaan ini.
“Cukup” sudah kesenangan duniawi. Pangeran Siddharta meninggalkan istana dan mencari cara untuk terbebas dari penderitaan untuk membebaskan diri dari penderitaan, menolong anggota keluarganya, menolong rakyatnya, menolong semua makhluk.
Enam tahun berjuang dengan berbagai cara termasuk dengan menyiksa diri, sehingga tubuhnya kurus kering. Enam tahun adalah waktu yang sangat singkat dibandingkan dengan perjuangan beliau ketika bertekad menjadi sammasambuddha dihadapan Buddha. Sammasambuddha adalah seorang yang mencapai pencerahan dengan usahanya sendiri.
***
Pendeta Sumedha.
Dalam salah satu kehidupannya yang lampau, Pangeran Siddharta terlahir sebagai seorang brahmana bernama Sumedha. Sumedha adalah seorang yang bijaksana, kaya, dan memiliki semua kebutuhan duniawi. Namun, ia merasa bahwa kehidupan duniawi tidak memuaskannya dan memutuskan untuk meninggalkan semua kekayaannya demi mencari kebijaksanaan spiritual. Ia menjadi seorang petapa dan mendalami ajaran-ajaran spiritual yang ada pada saat itu.
Pertemuan dengan Buddha Dipankara
Pada suatu hari, ketika petapa Sumedha sedang berkelana, ia mendengar kabar bahwa Buddha Dipankara akan mengunjungi desa tempat ia tinggal. Buddha Dipankara adalah seorang Buddha yang telah mencapai pencerahan sempurna (Sammasambuddha) jauh sebelum zaman Buddha Gautama. Penduduk desa mempersiapkan jalan bagi Buddha Dipankara untuk dilalui, dan petapa Sumedha turut serta membantu persiapan tersebut.
Melihat jalan yang berlumpur, petapa Sumedha menggunakan tubuhnya sendiri sebagai jembatan agar Buddha Dipankara dan empat ratus ribu arahanta dapat melintas tanpa hambatan.
Tekad Menjadi Sammasambuddha
Petapa Sumedha membuat tekad kuat (adhitthana) untuk menjadi seorang Sammasambuddha di masa depan. Ia tekad untuk melakukan segala yang diperlukan, termasuk menjalani banyak kehidupan penuh pengorbanan dan kebajikan, demi mencapai pencerahan tertinggi yang tidak hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi semua makhluk.
Buddha Dipankara memberikan menyatakan bahwa Sumedha akan mencapai tekadnya dan menjadi seorang Sammasambuddha dengan nama Gautama.
Perjalanan Panjang Menuju Pencerahan
Petapa Sumedha menjalani banyak kehidupan yang tak terhingga lamanya dengan penuh kebajikan, pengorbanan, dan meditasi mendalam. Ia lahir kembali berkali-kali, selalu berusaha untuk menyempurnakan dirinya dalam kebajikan dan kebijaksanaan.
Dikatakan beliau berjuang selama empat asankheyya dan seratus ribu kalpa, waktu yang sangat-sangat lama, untuk mengumpulkan kebajikan, kekuatan dan kebijaksanaan.
Asankheyya artinya tak terhitung / tak terbatas, disebutkan lamanya adalah 10 pangkat 140 tahun lamanya (dengan 140 nol dibelakangnya). Lama satu kalpa / kappa disebutkan sebagai 4,32 miliar tahun.
Setelah mencapai pencerahan Pangeran Siddharta menjadi Buddha yang sadar pada bulan Waisak di Bodhgaya, beliau mengajarkan bagaimana terbebas dari penderitaan. Banyak murid-murid beliau mencapai pencerahan, menjadi Arahanta, bebas dari penderitaan.
Para muridnya bagai kupu-kupu pergi menyebar ke seluruh penjuru, mengajarkan kepada siapa pun yang ingin terbebas dari penderitaan. Bagai kupu-kupu yang membantu penyerbukan untuk mendapatkan buah (phala), bebas dari penderitaan dengan mempraktekkan ajaran Buddha Gautama.
***
Karena kasih sayang-Nya beliau berjuang tak terhitung lamanya, tak terhingga pengorbanannya, untuk membantu semua makhluk agar dapat bebas dari penderitaan.
Ada rasa malu melihat diri sendiri tidak sungguh-sungguh berjuang untuk terbebas, padahal sang penolong, Sang Buddha Gautama dengan kasih sayangnya yang terbatas, sudah berjuang tak terhitung lamanya, tak terhingga pengorbanannya.
Semoga dapat merasa “cukup” lalu menjadi kepompong dan kupu-kupu.
21 Mei 2024,
Selamat Waisak 2568 (2024)
Semoga semua makhluk berbahagia

















