Penanggalan Buddhis dimulai saat Sang Buddha mencapai Parinibbana dengan berlandaskan pada penanggalan yang telah ada saat itu. Merupakan penanggalan bulan (lunar) yang dilakukan penyesuaian dengan penanggalan matahari (solar) sehingga disebut sebagai penanggalan lunisolar. Secara sederhana agar bersesuaian dengan kalender matahari maka pada penanggalan bulan dilakukan penambahan bulan tambahan (yang disebut lun atau adhikamasa) sebanyak 7 bulan dalam kurun waktu 19 tahun penanggalan bulan.
Penentuan hari Waisak tentu saja berdasarkan penanggalan Buddhis tersebut. Namun dalam perkembangannya penentuan hari Waisak dapat berbeda-beda di berbagai negara karena sistem penanggalan yang berbeda. Dulu saat Parinibbana pun pernah ada perbedaan pendapat. Ada yang mengatakan 543 sebelum Masehi, ada yang mengatakan 544 sebelum Masehi. Ada yang memulai dengan tahun 0 dan ada yang memulai dengan tahun 1. Saat ini disepakati bahwa tahun 2023 Masehi merupakan tahun Buddhis 2567 BE (Buddhist Era).
Penanggalan Buddhis yang lunisolar menyebabkan bahwa hari Waisak yang umumnya jatuh pada bulan April atau Mei, kadang-kadang bisa jatuh pada awal Juni apabila terdapat bulan tambahan pada tahun tersebut (catatan: tahun 2567 BE/2023 Masehi merupakan tahun dengan adhikamasa/lun). Cara penambahan lun atau adhikamasa dapat berbeda pula dalam tiap penanggalan.
Pada saat konferensi World Fellowship of Buddhists di Sri Lanka tahun 1950, raja Nepal meminta agar negara-negara yang mempunyai umat Buddha untuk merayakan bulan purnama pertama di bulan Mei sebagai hari Waisak. Di beberapa negara Waisak dirayakan pada hari kedelapan bulan keempat (si gwee) penanggalan Chinese. Di beberapa negara lainnya, Waisak dirayakan pada tanggal empat belas atau lima belas dari bulan keempat penanggalan Chinese.
Saat ini di Sri Lanka, Nepal, India dan berbagai negara lainnya Waisak dirayakan pada bulan purnama di bulan Mei kalender Masehi. Umumnya bulan Mei mempunyai satu bulan purnama. Namun dengan adanya kurun waktu 29,5 hari dalam sebulan, kadang-kadang terdapat dua bulan purnama. Maka dalam kejadian adanya bulan purnama ganda beberapa negara seperti Sri Lanka, Kamboja dan Malaysia merayakan Waisak pada bulan purnama pertama, sedangkan lainnya seperti Thailand dan Singapura merayakan pada bulan purnama yang kedua. Maka terjadilah perbedaan dalam penentuan hari Waisak. Demikian pula adanya perbedaan mulainya hari dalam penanggalan Buddhis dan penanggalan Masehi dapat menyebabkan perbedaan hari Waisak.
Dapat disimpulkan bahwa perbedaan penentuan hari Waisak merupakan hal yang tidak dapat dihindari karena perbedaan cara perhitungan dalam penanggalan. Namun demikian hal ini tampaknya tidak menjadi permasalahan bagi umat Buddha untuk merayakan Waisak sesuai dengan perhitungan dan keyakinan masing-masing, dengan tetap menghormati mereka yang berbeda hari dalam merayakan Waisak.
Selamat Hari Trisuci Waisak, semoga semua makhluk hidup berbahagia.

















