Top 10 Penulis

Why BBU?

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

buddha, hand, statue
Photo by snowlion

Dulu sekitar tahun 60-70an ada satu motor bebek yang sangat populer, dikenal dengan nama DKW (akronim/kependekan dari Dampf Kraft Wagen). Ada juga kendaraan lain yang barangkali lebih terkenal dengan akronimnya dibanding nama aslinya misalnya BMW (Bayerische Motoren Werke atau Bavarian Motor Works).

Mungkin banyak juga yang menyangka bahwa kata Fiat, mobil buatan Itali adalah sebuah nama tetapi sebenarnya adalah akronim dari Fabbrica Italiana Automobili Torino.

Beberapa bank memakai akronim seperti  BCA yang merupakan akronim dari Bank Central Asia, BRI yang merupakan akronim Bank Rakyat Indonesia dan lain-lain. Jadi kalau menyebut Bank BCA atau Bank BRI, berarti ada dua kata Bank di situ.

Akronim banyak sekali dijumpai dalam medsos untuk mempermudah penulisan. Kalau ada yang berulang tahun, cukup  tulis HBD yang bermakna Happy Birthday.

Kalau ada yang sakit dituliskanlah GWS (Get Well Soon). Kalau mau retreat sebentar, dituliskanlah BRB (Be Right Back). Kalau terlambat membalas WA, tinggal menuliskan SBB (Sori Baru Balas).

Salah satu akronim yang sering dipakai adalah GBU, akronim dari God Bless You. Sebuah ungkapan umum untuk menyampaikan ‘blessing’ dalam berbagai situasi khususnya saat ada yang bersin dan saat berpisah atau pamitan.

Mungkin melihat ungkapan tersebut, ada umat Buddha beranalogi membuat ungkapan Buddha Bless You dengan akronim BBU (BBU banyak sekali kepanjangannya dengan arti bermacam-macam).

Mungkin juga pernah melihat tulisan Buddha Bless You pada teks film silat Mandarin. Sebenarnya ‘blessing’ merupakan suatu hal yang tidak asing bagi umat Buddha.

Saat upacara perkawinan secara agama Buddha, orangtua mempelai dan pandita memberi ‘blessing’ kepada mempelai dengan memercikkan ‘blessing water’ (air pemberkahan) diiringi kata-kata berisikan harapan/doa yang baik.

Saat visuddhi upāsaka, bhikkhu memberi blessing dengan memercikkan air pemberkahan dan membacakan paritta pemberkahan. Ada vihara mengadakan acara ‘baby blessing’. Tetapi menjadi tidak ‘pas’ bila Sang Buddha yang telah wafat (mencapai Parinibbāna) ribuan tahun lalu dikaitkan dengan ‘memberi blessing’.

Agak mengherankan juga kalau ada umat yang ‘terpelajar’ dalam agama Buddha masih menggunakan akronim BBU ini untuk mengakhiri tulisan dalam medsos.

Tapi tentu saja baik sekali menutup suatu tulisan dengan kata-kata yang bermakna positif seperti kebahagiaan atau keberkahan. Untuk menggantikan kata BBU dapat dipakai kata ‘Sabbe Sattā Bhavantu Sukhitattā’, boleh dibuat akronimnya menjadi SSBS, bermakna Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia.

Boleh juga menutup tulisan dengan ungkapan Sukhī Hotu, semoga anda berbahagia, tapi ini jangan diakronimkan menjadi SH… (sebagai tambahan, sukhī hotu tetap sebagai singular walaupun ditujukan kepada lebih dari satu orang dan tidak menjadi sukhī hontu).

Dalam agama Buddha blessing sering dipakai sebagai terjemahan dari kata manggala (maṅgala), yang berarti yang mendatangkan kebahagiaan dan kesejahteraan (which is conducive to happiness and prosperity).

Berasal dari kata ‘maṅ’ (keadaan yang tidak menyenangkan),’ ga’ (pergi) dan ‘la’ (memotong). Bermakna yang menghalangi jalan menuju penderitaan (that which obstructs the way to states of misery).

Secara kebahasaan blessing mempunyai banyak arti antara lain good wishes, anything that gives happiness or prevents misfortune, special benefit or favor. Dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai berkah.

Maka bila ingin ungkapan pengganti BBU yang mengandung makna ‘blessing’, dapat dipilih kalimat dalam Sumangala Gāthā II yaitu ‘Bhavatu sabba-mangalam’ (May there be every blessing) – semoga semua berkah ada pada anda. Bisa diakronimkan dengan BSM, sayangnya akronim BSM sudah dipakai dalam banyak sekali makna. Jadi terpaksa tulisan ini ditutup dengan:

Sukhī hotu,

atau boleh juga dengan:

SSBS – akronim ini tidak ditemukan kepanjangannya di medsos jadi barangkali bisa ‘dipatenkan’ sebagai akronim dari  Sabbe Sattā Bhavantu Sukhitattā.

Pilihan

Terpoler Minggu Ini

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

hands, old, typing
Tidak hanya dalam penulisan tersebut ada ketidakcermatan berbahasa. Kadang kala ditemui tulisan doorprice, yang mestinya doorprize. Atau kata yang seharusnya ditulis deadline menjadi dateline, padahal kedua kata mempunyai arti yang sangat berbeda.
vesak, buddha, birth
Penanggalan Buddhis yang lunisolar menyebabkan bahwa hari Waisak yang umumnya jatuh pada bulan April atau Mei, kadang-kadang bisa jatuh pada awal Juni apabila terdapat bulan tambahan pada tahun tersebut. Cara penambahan lun atau adhikamasa dapat berbeda pula dalam tiap penanggalan.

Tulisan Terkait