Top 10 Penulis

Yang Pantas Tahu Diri, Yang Tidak Lupa Diri.

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

man in black crew neck t-shirt standing near white window curtain
Photo by Max Harlynking

Saya kenal baik dengan tokoh agama Buddha ini. Beliau salah satu sesepuh yang telah banyak berjasa dan berkarya. Sejak masih muda, bahkan hingga pada usia senjanya  hari ini, beliau masih berkontribusi bagi agama Buddha. Setelah wihara selesai dipugar, sekolah pun beliau mulai bangun bersama rekan-rekan yang peduli.

Perlahan tapi pasti, wajah wihara telah berubah. Sekarang sudah ada sekolah, hingga tingkat SMP. Wihara dan sekolah berada dalam satu komplek. Setiap kali saya ke kota beliau, suara anak-anak bermain di halaman wihara adalah seberkas cahaya terang akan keberlangsungan agama Buddha di sana.

Beliau tokoh yang unik. Salah satu sifat beliau adalah tegas. Beliau tegas dan tidak mau kompromi untuk hal-hal yang dianggapnya belok-belok. Bagi sebagian orang, sifat ini akan dianggap keras atau kaku. Tetapi saya paham. Pemimpin memang harus punya prinsip yang tidak mungkin akan menyenangkan semua orang. Selain tegas, satu hal lagi yang saya kagumi adalah beliau tidak baper soal penghargaan.

Hingga hari ini, setahu saya, beliau tidak pernah mendapatkan penghargaan signifikan dari organisasi yang beliau pernah besarkan dan hingga sekarang masih beliau cintai. “Romo (hanya ada tiga orang pandita di Indonesia yang saya panggil romo), sudah pantas menjadi Maha Upasaka Pandita”, kata saya suatu hari. “Oh, tidak. Jangan. Jangan. Saya belum pantas. Jangan, jangan diusulkan” kira-kira demikian jawaban beliau. Sebuah tanggapan rendah hati dari seseorang yang telah mengerti dirinya sendiri.

Selain beliau, ada mendiang pak Krish (M.U.P. dr.Krishnanda Widjaja Mukti, M.Sc.) yang menegur saya karena menulis nama beliau secara lengkap dengan gelar pada sertifikat yang beliau akan tanda tangani. “Saya malu, menulis nama dan gelar sendiri lalu tanda tangan. Cukup Krishnanda saja,” jelas beliau seingat saya. Sejak itu saya tidak pernah lagi menulis nama beliau plus gelar, hanya Krishnanda Widjaja Mukti.  Dari dua tokoh tersebut kita dapat belajar tentang ketulusan dan kerendahan hati.

Seseorang yang memang pantas akan tahu diri. Dia tidak perlu meminta-minta, menuntut ke sana kemari atau bahkan malah membuktikan diri bahwa penghargaan untuknya memang layak diberi. Alih-alih banyak bicara untuk membanggakan diri serta prestasi, dia hanya diam. Orang seperti ini sangat mengerti bahwa penghargaan yang sejati datang dari pengakuan orang lain yang diberikan tanpa paksaan atau intimidasi. Di dunia pengbadian kepada Buddha-Dharma, sikap seperti ini wajib dimiliki, khususnya bagi para pandita/dharmaduta sebagai perilaku dari etos kerja tulus dan rendah hati. 

Mengabdi dan melayani untuk Buddha-Dharma tidak lepas dari beragam tantangan, baik dari dalam maupun luar. Salah satu tantangan dari dalam adalah ego untuk menonjolkan diri dan merasa paling pantas karena telah banyak berjasa dan memberi. Ada diri yang merasa telah banyak berbuat sehingga merasa layak diberikan gelar tertinggi. Bila gelar tidak kunjung diberi, si ‘diri’ merasa belum dihargai dan akhirnya merasa kecewa (ber-dukkha)

Tantangan dari dalam ini harus mampu diatasi. Kita dapat renungkan bahwa Buddha mengajarkan tentang sungguh-sungguh melihat semua bentuk dengan pengertian benar bahwa mereka bukan milik saya, bukan saya, dan bukan diri saya (SN 22.59). Telah dijelaskan juga bahwa nafsu keinginan yang rendah dan beracun akan membuat penderitaan semakin bertambah (Dhp 334). Selain itu, Nagarjuna juga mengajarkan bahwa salah satu derma yang tidak murni adalah derma demi ketenaran dan pujian. Ajaran-ajaran ini dapat membantu meredakan ‘diri’ yang bergejolak ingin mendapatkan penghargaan.

Cara kedua untuk mengatasi rintangan ini adalah menyadari ego yang timbul pada saat kecewa karena penghargaan tidak kunjung diberi. Renungkan kembali motivasi awal ketika mulai terjun aktif melayani. Nama, gelar, dan jabatan bukan tujuan. Mereka hanyalah sekedar apresiasi yang tidak perlu dinanti-nanti apalagi sampai mengintimasi agar diberi. Hadirkan kembali motivasi utama mengabdi dan melayani yaitu agar Buddha-Dharma dibabarkan atas dasar kasih kepada dunia, dan demi kebaikan, kebahagiaan serta kesejahteraan banyak makhluk, manusia dan para dewa (SN 4.5).

Semakin tulus dalam memberi, peduli-melayani, dan mengabdi untuk Buddha-Dharma, keinginan untuk mendapatkan penghargaan dan pangkat akan semakin menjauh pergi. Bila sudah layak dan pantas, waktunya akan tiba sendiri. Teruslah berkarya. Berikan yang terbaik supaya Dharma tetap lestari. Hadiah, pangkat, dan penghargaan akan datang sendiri. Tidak perlu ditagih. Tidak perlu dinanti.  Mari kita semua terus peduli-melayani dengan tulus dan rendah hati.

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

brown statue
Perilaku sombong merugikan karena umat tidak suka pandita yang sombong, dan tidak menghormati mereka. Kesombongan membangun tembok yang memisahkan pandita dengan umat sedangkan kerendahan hati adalah jembatan yang menghubungkan pandita dengan umat.

Tulisan Terkait