Top 10 Penulis

Yang Ringan-Ringan Tentang Istilah

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

assorted stickers
Photo by Kyle Glenn

Olahraga yang paling terkenal di dunia pastilah sepak bola. Dalam bahasa asing disebut football, beberapa negara memakai istilah soccer. Terjemahan football mestinya bola kaki, tetapi yang dipakai adalah istilah sepak bola, bukan juga bola sepak.

Olahraga lain yang populer di Indonesia adalah bulu tangkis, Indonesia sering kali menjadi juara dalam olahraga ini dalam berbagai kejuaran dunia.

Aslinya disebut badminton, dulu pernah diterjemahkan sebagai tepok bulu. Istilah ini agaknya lebih tepat karena dalam olahraga ini pemainnya “menepok” bulu, bukan melakukan “tangkisan” yang merupakan gerakan tangan ke samping untuk menolak sesuatu yang datang ke tubuh.

Tetapi untung juga istilah tepok bulu ini tidak dipakai, karena kalau dipakai, kita akan mendengar di radio atau televisi pembaca berita mengucapkan pemain tepok bulu pria dan pemain tepok bulu wanita.

Dalam kehidupan umat Buddha sehari-hari ada satu istilah yang dulu sangat sering dipakai dan dianggap sebagai salam umat Buddha yaitu Namo Buddhāya. Setiap bertemu seorang umat Buddha akan mengucapkan Namo Buddhāya dan merangkapkan kedua telapak tangan di depan dada.

Karena terbiasanya, ada umat Buddha yang sedang memegang barang belanjaan secara refleks mengucapkan Namo Buddhāya ketika bertemu dengan umat Buddha lain dan merangkapkan kedua tangan ke depan dada sambil memegang barang belanjaan tersebut.

Istilah Namo Buddhāya bermakna penghormatan kepada Sang Buddha. Kata namo berarti homage atau honour, atau bend (membungkukkan tubuh sebagai tanda penghormatan).

Ucapan ini mengandung makna luhur mengingatkan seseorang kepada Sang Buddha sehingga harus diucapkan dengan khidmat. Dapat diucapkan saat menghormat di hadapan Buddharupang. Ada juga yang membacakan istilah ini berulang-ulang saat melewati tempat-tempat tertentu untuk menambah keyakinan diri terhadap berbagai gangguan.

Namo Buddhāya merupakan istilah yang dipergunakan saat memulai khotbah Dhamma atau sambutan dalam suatu pertemuan formal.

Salam bertemu berbeda-beda di berbagai tempat. Di beberapa tempat di Asia ada kebiasaan mengucapkan “Namaste” saat bertemu. Istilah ini bermakna hormat kepada Anda (namo dan te) dan digunakan secara umum tanpa memandang agama atau keyakinan. Mengucapkan namaste diiringi dengan merangkapkan kedua tangan di depan dada.

Posisi tangan seperti ini yang disebut Añjali mudra menjadi sangat populer dilakukan di masa pandemi menggantikan berjabatan tangan.  Añjali tentu saja lebih higienis dan sesuai dengan protokol kesehatan, lebih menunjukkan keramahan dan kerendahan hati, bahkan ada yang mengatakan gerakan tangan demikian bermakna “you are close to my heart”.

Di sisi lain berjabatan tangan berasal dari tradisi Barat yang awalnya bermakna untuk menunjukkan bahwa seseorang tidak memegang senjata. Bagi sebagian orang berjabatan tangan tidak begitu nyaman karena harus bersentuhan langsung, mungkin juga ada jabatan tangan yang menggenggam kuat2 sehingga sedikit menyakitkan.

Istilah lain yang dapat dipakai untuk salam saat bertemu adalah Sukhī hotu, satu istilah yang sudah dikenal lama oleh umat Buddha Indonesia. Bermakna semoga anda bahagia. Dapat pula digunakan saat berpisah, dan kadang-kadang istilah ini diucapkan oleh seorang bhikkhu saat ada umat yang berpamitan.

Ada pula istilah yang lebih belakangan dikenal, yaitu Sotthi hotu yang berarti semoga anda sejahtera. Sotthi berasal dari kata suvatthi (su dan atthi, su berarti baik dan atthi berarti keadaan). Dalam Bahasa Sansekerta disebut svasti, yang menjadi dasar dari istilah svastika atau swastika, salah satu lambang dalam agama Buddha.

Suvatthi hotu dalam Bahasa Sansekerta menjadi svastiastu, salam yang digunakan oleh saudara-saudara umat Hindu dalam Omswastiastu. Di Thailand, kata svasti menjadi sawatdi yang dipergunakan sebagai salam umum.

Ada istilah Romo (atau Rama) sebagai sebutan untuk pandita pria, dan ada istilah Ramani untuk pandita wanita. Kata Romo (Rama) mudah dimengerti karena dapat dicari dalam kamus, yang mungkin menjadi pertanyaan adalah kata Ramani. Istilah Ramani merupakan istilah ciptaan baru oleh alm Rama Rashid.

Bagi yang pernah merasakan masa perpeloncoan di jaman dahulu tentu ingat ada istilah raka untuk mahasiswa senior pria dan rakanita untuk yang wanita. Bila dianalogikan maka kalau untuk pria disebut rama maka untuk wanita menjadi ramanita, tetapi karena terlalu panjang maka disingkat menjadi raman sampai sekarang.

Istilah upacarika juga merupakan istilah ciptaan baru. Dalam suatu kali pertemuan, kepada Bhikkhu Girirakkhito (alm) dimohon untuk dapat memberikan sebuah istilah untuk mereka yang aktif dalam kegiatan agama tetapi belum menjadi pandita. Pernah ada yang memakai istilah Pembantu Pandita tapi rasanya kurang pas walaupun kata Pembantu dipakai juga misalnya pada istilah Pembantu Gubernur atau Pembantu Rektor.

Setelah berpikir agak lama beliau mengusulkan kata Upacarika, saat itu tidak menjelaskan asal usul katanya. Jadi hanya bisa dikira-kira saja bahwa mungkin karena orang-orang tersebut aktif dalam pelaksanaan upacara  maka diberi nama upacara ditambah ika.

Kebetulan pas juga karena yang bersangkutan adalah Upāsaka atau Upāsikā, jadi ada kesamaan kata. Ika di sini merupakan imbuhan akhir yang berfungsi sebagai pelengkap kata sebagaimana juga dalam Bhinneka Tunggal Ika (ada yang keliru mengira bahwa ika berarti satu, padahal yang satu adalah eka ditambah bhinna yang berarti berbeda, kalau tunggal berarti satu-satunya).

Dulu ada juga istilah anagarika yaitu umat Buddha pria yang hidup tanpa rumah (a-tidak, gara-rumah ditambah ika).

Ada mahasiswa sebuah Sekolah Tinggi Agama Buddha tingkat akhir bertanya, mengapa di Sekolah Tinggi Agama Buddha masih ada yang memakai istilah Yang Mulia kepada bhikkhu pada acara mereka?

Ya ini memang sedikit mengherankan karena Sekolah Tinggi Agama Buddha merupakan pusat pembelajaran Agama Buddha sehingga mestinya memahami bahwa penggunaan istilah Yang Mulia (disingkat YM) untuk para bhikkhu adalah tidak tepat karena istilah itu adalah gelar untuk bangsawan dan pejabat tinggi, dan di Indonesia tidak ada lagi penggunaan istilah itu. Saat agama Buddha baru mulai tumbuh kembali di Indonesia pada tahun 1960-1970an, tidak ada istilah Yang Mulia sebagai sebutan kepada para bhikkhu. Yang ada waktu itu,  ada yang mengusulkan agar menyebut bhikkhu dengan istilah “Romo Bhikkhu”.

Ada pernah terbaca dalam salah satu acara dengan beberapa pembicara dari berbagai agama, nama para pembicara dituliskan sesuai dengan keahliannya. Hanya pada nama pembicara dari agama Buddha dituliskan singkatan YM (yang berarti Yang Mulia).

Hal ini berkonotasi bahwa seolah-olah pembicara dengan YM tersebut mempunyai “rank” yang lebih tinggi dalam kemuliaan atau kebangsawanan walau tentu tidak dimaksudkan demikian. Kejadian yang mungkin tidak disengaja ini tak pelak dapat menimbulkan “rasa tidak enak hati”  (dalam bahasa asingnya disebut ‘pu hauw i se’).

Saat ini sebutan penghormatan kepada para pejabat tinggi negara termasuk presiden  adalah Yang Terhormat. Jadi apabila dalam sebuah pertemuan formal, kepada pejabat disebut “Yang Terhormat” dan kepada bhikkhu disebut “Yang Mulia”. tentulah itu sangat “pu hauw i se”.

Selamat Tahun Baru 2022, semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

hands, old, typing
Tidak hanya dalam penulisan tersebut ada ketidakcermatan berbahasa. Kadang kala ditemui tulisan doorprice, yang mestinya doorprize. Atau kata yang seharusnya ditulis deadline menjadi dateline, padahal kedua kata mempunyai arti yang sangat berbeda.
vesak, buddha, birth
Penanggalan Buddhis yang lunisolar menyebabkan bahwa hari Waisak yang umumnya jatuh pada bulan April atau Mei, kadang-kadang bisa jatuh pada awal Juni apabila terdapat bulan tambahan pada tahun tersebut. Cara penambahan lun atau adhikamasa dapat berbeda pula dalam tiap penanggalan.

Tulisan Terkait